Siang itu, setelah salat Zuhur, suasana sekolah mulai lengang. Sebagian besar murid sudah pulang. Pembelajaran hari itu memang hanya berlangsung sampai waktu Zuhur karena sekolah masih menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas akibat kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya.
Dari balik jendela ruang guru, cahaya matahari mulai terlihat menembus kabut asap. Meski begitu, langit belum benar-benar cerah. Kota Palangka Raya masih tampak seperti sedang menggunakan filter abu-abu. Matahari sudah berusaha muncul, tetapi asap sepertinya belum rela memberikan jalan sepenuhnya.
Di dalam ruang guru, saya masih duduk menghadap laptop, menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tidak jauh dari pintu masuk, Pak Tri juga sedang bekerja di depan laptopnya. Kacamata yang bertengger di hidungnya sesekali membuatnya tampak serius memperhatikan layar.
Tiba-tiba, tiga orang murid SMA masuk ke ruang guru. Mereka langsung menghampiri Pak Tri yang duduk paling dekat dengan pintu. Barangkali karena posisinya paling strategis, Pak Tri menjadi orang pertama yang mereka temui.
Tatapan Pak Tri beralih dari layar laptop ke arah ketiga murid tersebut.
Entah apa yang mereka bicarakan. Saya yang duduk dengan jarak kurang lebih delapan meter hanya bisa menangkap beberapa kata yang terdengar samar.
"Sepatu."
"Tertukar."
"Di masjid."
Percakapan itu berlangsung sekitar dua menit. Selama itu pula, pekerjaan saya terbengkalai. Bukan karena pekerjaannya sulit, melainkan karena perhatian saya justru tertuju pada percakapan mereka. Saya sibuk menguping. Penasaran.
Maklum, di ruang guru yang mulai sepi setelah jam pulang, percakapan seperti itu bisa menjadi hiburan tersendiri.
"Coba tanyakan dengan bagian kesiswaan," kata Pak Tri dengan suara yang sayup-sayup terdengar.
"Mas Wisnu!"
Suara Pak Tri tiba-tiba membesar. Tatapan ketiga murid itu, termasuk Pak Tri, beralih ke arah saya.
Ternyata, menguping ada gunanya juga.
Tanpa perlu bertanya kembali ada apa dan mengapa, saya langsung merespons panggilan Pak Tri dari tempat duduk.
"Coba tanyakan Pak Budi, lihat CCTV masjid. Supaya kelihatan siapa yang mengambil," jawab saya, mencoba memberikan solusi.
"Oh, iya," kata Pak Tri.
Mendengar jawaban tersebut, ketiga murid itu pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Mereka segera menuju masjid untuk menemui Pak Budi, marbot masjid.
Masalah selesai. Setidaknya, menurut perkiraan kami saat itu.
Saya dan Pak Tri kembali bekerja, menatap layar laptop masing-masing. Ruang guru kembali tenang. Suara ketikan keyboard sesekali terdengar, bercampur dengan suara kipas angin.
Sepuluh menit berselang, tiba-tiba ketiga murid SMA itu kembali masuk ke ruang guru. Sepertinya ada perkembangan baru. Sayangnya, bukan perkembangan yang menggembirakan.
Dengan nada sedikit khawatir, salah seorang dari mereka berkata cukup lantang,
"CCTV-nya rusak, Pak. Jadi, enggak ketahuan siapa yang mengambil."
Pak Tri yang masih duduk di dekat pintu, dengan kacamatanya, kembali mengalihkan pandangan dari laptop.
"Ya sudah, temui Pak Wisnu sana," jawabnya singkat sambil mengarahkan wajah ke tempat saya duduk.
Rupanya, urusan sepatu ini resmi berpindah tangan.
Salah seorang murid kemudian menghampiri meja saya. Dari ketiganya, Samih terlihat paling pendek. Ia berdiri di depan meja saya bersama dua temannya yang bertubuh lebih tinggi. Kalau mereka berdiri berjejer, Samih mungkin harus sedikit mendongak untuk ikut masuk dalam percakapan.
Ia kemudian mengangkat sepatunya. Dua sepatu hitam ditunjukkannya kepada saya. Modelnya sama, mereknya sama, warnanya sama. Sekilas, tidak ada perbedaan di antara keduanya.
"Ini, Pak. Sepatu saya tertukar. Sebelah kirinya benar punya saya, ukuran 41. Tapi, yang kanannya lebih kecil. Sepertinya tertukar dengan murid SMP," ucapnya dengan sopan. Nada suaranya terdengar khawatir, sekaligus berharap ada solusi dari saya.
Saya memperhatikan kedua sepatu itu.
Dalam hati saya berpikir, bagaimana mungkin dua sepatu yang tampak identik ini bisa tertukar? Bahkan kalau keduanya diletakkan berdampingan, mungkin pemiliknya sendiri perlu waktu untuk memastikan mana yang benar.
"Tolong angkat sepatunya. Saya foto dulu."
Saya membuka kamera ponsel dan memotret kedua sepatu tersebut. Hasilnya? Sama saja. Kamera ponsel saya pun sepertinya tidak memiliki kemampuan khusus untuk menyelesaikan kasus pertukaran sepatu ini.
"Foto ini nanti saya kirimkan dulu ke grup wali kelas. Jadi, saya minta nomor HP-mu, ya. Kalau sepatunya ditemukan, saya bisa langsung menghubungimu."
"Baik, Pak. Izin saya menambahkan nomor HP saya."
Ia menerima ponsel saya, mengetik nomornya, sekaligus menambahkan namanya ke daftar kontak.
Samih. Itulah nama murid SMA yang kehilangan, atau lebih tepatnya, tertukar sepatunya.
"Terima kasih, Pak. Hubungi saya kalau sudah ada informasi, ya, Pak."
Samih dan kedua temannya menyalami saya dan Pak Tri sebelum meninggalkan ruang guru.
Setelah mereka pergi, saya kembali mengirimkan informasi mengenai sepatu yang tertukar itu ke grup wali kelas. Foto dua sepatu hitam yang nyaris identik tadi ikut saya bagikan. Siapa tahu ada wali kelas yang mengenali sepatu tersebut atau mendapatkan informasi dari murid-muridnya.
Sampai sekarang, belum ada kabar dari wali kelas, murid, maupun orang tua murid.
Kasus ini memang sederhana, tetapi cukup menarik. CCTV masjid tidak bisa membantu karena rusak. Dua sepatu yang tertukar sulit dibedakan karena model dan mereknya sama. Sementara itu, pemiliknya sudah menunggu kabar.
Semoga besok ada perkembangan.
Sebab, rasanya kurang elok jika Samih harus menjalani hari-harinya dengan dua sepatu yang sama-sama hitam, tetapi tidak benar-benar berjodoh.
Barangkali besok, setelah kabut asap sedikit berkurang, kedua sepatu itu akhirnya bisa menemukan pasangan masing-masing.
.jpeg)
0 Komentar