![]() |
| Gambaran Materi Pertama yang Diajarkan Pak Narto |
Salah satu hal yang paling saya sukai adalah mengamati dan menganalisis gaya bicara seseorang. Entah dalam percakapan sehari-hari, presentasi, bahkan pidato. Kebiasaan ini hampir selalu muncul, terutama ketika saya bertemu orang baru: teman, murid, orang tua murid, guru, kepala sekolah, dosen, sampai profesor.
Dan saya menemukan satu hal: setiap orang punya cara yang berbeda. Dari susunan katanya, mimik wajahnya, caranya menanggapi persoalan, hingga caranya menyanggah dan menjawab. Perbedaannya sangat kentara. Saya bisa melihat dengan jelas bagaimana seorang profesor menyanggah sebuah pernyataan, dan bagaimana seorang guru junior melakukannya. Rasanya benar-benar lain.
Saya sadar, ini bukan semata soal bakat. Ada jam terbang dan struktur berpikir di baliknya. Setidaknya begitu menurut saya.
Kali ini, saya ingin menuliskan pengamatan saya terhadap seorang pemateri yang berbagi ilmu di sekolah kami kemarin, dalam kegiatan komunitas belajar untuk persiapan TKA. Harapannya, setelah kegiatan ini para guru, terutama guru Bahasa Indonesia dan Matematika, bisa menyusun materi dan soal sesuai standar TKA.
Sosok Pak Narto: Guru yang Sudah Lama Mengajar
Sebut saja namanya Pak Narto.
Dari perkenalannya, beliau adalah seorang pengajar dan pendidik. Beliau memiliki bimbingan belajar bahasa Inggris bernama SUBEC di Palangka Raya. Beliau juga mengenal banyak orang penting di sekolah kami, yang kini sebagian besar sudah pensiun. Bahkan, beliau hadir sebagai pemateri atas rekomendasi salah satu tokoh yang dulu berpengaruh di sekolah ini.
Artinya jelas: Pak Narto sudah sangat lama mengajar.
Kesan Pertama: Jabat Tangan yang Hangat
Begitu beliau masuk, saya langsung bisa menebak bahwa beliau mudah bergaul dan beradaptasi. Jabat tangannya erat dan penuh semangat, sambil menatap mata orang yang dijabatnya.
Ketika duduk dan mulai berbicara, terlihat pula bahwa beliau terbiasa berinteraksi dengan anak-anak. Pilihan katanya, intonasinya, semuanya dirangkai dengan kata-kata yang optimis dan positif, dengan nada yang seakan mengajak kita bermain dengan gembira.
Dugaan saya terbukti saat beliau mulai mengajar. Beliau mengajar guru-guru layaknya mengajar anak-anak. Dan menurut saya, itu justru hal yang baik. Guru yang tua maupun muda sudah cukup lama merasakan ketegangan dalam bekerja. Hari itu, kami bisa bersuka ria sambil belajar.
Seni Mencairkan Suasana: “Kita Sama”
Pengamatan saya berlanjut ke bagian pembukaan dan sambutan. Ada pola yang sering dipakai orang besar ketika datang ke lingkungan baru: menyampaikan persamaan. Bisa berupa kesamaan kenalan, daerah asal, pekerjaan, bahkan tujuan atau gagasan.
Itulah yang dilakukan Pak Narto. Beliau menyebut orang-orang yang dikenalnya di sekolah ini, menyampaikan bahwa beliau sesama pendidik, dan bahwa beliau sudah lama tinggal di kota ini.
Menurut saya, itu memang perlu dilakukan untuk meruntuhkan sekat dan mengurangi kecanggungan. Kalau ide di balik semua itu bisa bicara, mungkin bunyinya begini:
“Saya dan Anda sama. Jadi kita bisa mendiskusikan apa pun. Jangan takut, kita punya kesamaan.”
Lelucon yang Gagal, dan Cara Menyelamatkannya
Pak Narto berbicara dengan jelas, memakai bahasa yang mudah dipahami para guru, memilih kata-kata positif, dan sesekali menyelipkan lelucon. Sayangnya, ada satu lelucon yang membuat guru-guru muda di ruangan kebingungan.
“Laki-laki ternyata lebih rajin daripada perempuan. Buktinya, laki-laki kalau pagi bangun duluan,” ucapnya.
Ruangan hening.
Hanya satu guru senior, seorang ibu, yang tertawa pelan.
“Loh, banyak yang paham toh,” kata Pak Narto, memecah keheningan. Beliau mengulang kalimat pertamanya sekali lagi, dan akhirnya seisi ruangan mengerti maksudnya.
Jujur, saya tidak suka lelucon seperti itu. Dan sepertinya bukan hanya saya, raut wajah kami menunjukkannya. Pak Narto rupanya bisa membaca situasi. Beliau cepat menimpali:
“Itu loh, yang ada di pelajaran biologi.”
Dan kami pun tertawa.
Kekuatan Gambaran dalam Kata
Saya kagum. Dalam hitungan detik, beliau mengubah lelucon berbau seksual menjadi lelucon dalam konteks ilmu biologi. Di sinilah saya teringat sesuatu yang pernah saya baca dalam sebuah buku: manusia berpikir dengan gambar, bukan dengan kata-kata.
Saat mendengar kata “bangun”, yang terbayang pada umumnya adalah orang yang baru bangkit dari kasur. Lalu beliau menambahkan kalimat dengan konteks lain, dan kata itu berubah bermakna negatif. Setelah itu beliau memindahkannya ke konteks biologi, dan kata yang sama menjadi sesuatu yang wajar, sesuatu yang memang semestinya ada pada laki-laki normal.
Sungguh ajaib. Satu kata bisa memiliki begitu banyak makna.
Beliau paham betul bahwa kata-kata membangun gambaran di kepala. Karena itu, tak sekali pun beliau berkata, “Hari ini kita akan belajar sesuatu yang sulit.” Beliau selalu berkata, “Hari ini kita akan belajar dan bersenang-senang.”
Lihat bedanya.
Kalimat pertama membuat orang gugup, gemetar, bahkan cemas. Di kepala muncul berbagai pertanyaan: “Bagaimana kalau saya ditanya? Bagaimana kalau saya tidak bisa? Bagaimana kalau jawaban saya salah?”
Kalimat kedua memberi optimisme: “Ini permainan, jadi tidak apa-apa kalau salah. Ini menyenangkan, jadi mari kita dengarkan dan lakukan apa yang diminta guru. Ayo bergembira bersama.”
Perbedaannya sangat jelas, bukan?
Metode Mengajar yang Hampir Dilupakan
Hanya Pena dan TV Interaktif
Di zaman ketika banyak orang mengandalkan PowerPoint, Pak Narto justru mengajar hanya dengan pena dan TV interaktif. Gagasan-gagasannya ditulis dalam bentuk kata kunci, disertai gambar, sehingga mudah diingat.
Menurut saya, ini adalah metode lama yang paling menarik sekaligus efektif. Saya rasa para filsuf zaman dahulu juga mengajar dengan cara serupa, namun sayangnya metode ini perlahan terlupakan. Pada pertemuan berikutnya, saya akan mencobanya.
Puzzle Kata yang Semakin Mudah Dipecahkan
Hal menarik lainnya: Pak Narto sering mengulang kata-kata penting yang ditulisnya di papan. Bukan hanya beliau, kami para peserta pun ikut mengulang materi bahasa Inggris yang diajarkan.
Uniknya, kata-kata di papan terkadang sengaja tidak berurutan. Kami harus fokus mengingat materi sekaligus urutan yang benar, seolah-olah sedang menyusun puzzle kata menjadi kalimat. Karena diulang terus-menerus, puzzle yang tadinya sulit pun semakin mudah dipecahkan.
Saya rasa ini metode yang mind-blowing. Entah beliau melakukannya dengan sengaja atau tidak, kenyataannya cara ini membuat saya, khususnya, cepat memahami materinya.
Belajar Lewat Telinga dan Gerakan
Beliau tidak hanya mengajar lewat tulisan dan gambar. Ada beberapa kata yang sengaja tidak ditulis, hanya diucapkan, terutama kata-kata yang mudah diingat. Ini melatih pendengaran sekaligus konsentrasi kami.
Beliau juga melatih sisi kinestetik. Saat mengajarkan on, under, beside, dan behind, beliau memakai gerakan dua tangan. Para guru belajar sambil tertawa.
Rasanya lucu dan hangat melihat guru-guru sepuh belajar bahasa Inggris sambil bergerak aktif. Pemandangan yang jarang saya lihat. Dan jujur, ini adalah metode yang harus saya coba ketika mengajar matematika nanti.
Sesi Tanya Jawab: Pertanyaan yang Mengganjal di Hati
Ketika materi berakhir, MC membuka sesi tanya jawab. Saya langsung mengangkat tangan.
“Bapak, kita sebagai guru tentu tahu bahwa kemampuan siswa berbeda-beda. Ada murid yang harus diajar berulang-ulang agar paham. Saya sebagai guru sangat ingin mengajar sampai murid benar-benar paham, berapa kali pun harus mengulang. Tapi masalahnya, kita punya kurikulum. Ada materi yang ditargetkan selesai dalam satu semester. Dengan waktu yang terbatas dan materi yang banyak, bagaimana kita memahamkan murid kalau mengulang terus? Pastinya waktu habis dan target materi tidak tercapai.”
Pak Narto menjawab dengan tenang:
“Tugas kita sebagai pendidik adalah menyampaikan. Jika murid tidak paham, kita harus sabar, mengulang materi yang sama sampai dia paham. Tapi jika masih belum paham, dan tentunya kita sebagai guru tahu batas kemampuan murid kita, maka hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah berdoa. Berdoa agar anak itu bisa paham, dan minimal apa yang kita ajarkan berguna baginya kelak.”
Beliau melanjutkan:
“Tentunya kita juga harus memperhatikan target materi di sekolah. Tapi sebagai guru, kita harus bisa memilah mana materi esensial yang menjadi pondasi bagi materi lainnya. Materi itulah yang kita ajarkan berulang dan kita latih ke murid. Contoh sederhananya dalam matematika: murid harus paham kali, bagi, tambah, dan kurang (Kabataku). Itu yang bisa saya jawab, dan tentunya masih ada kekurangan dalam jawaban saya.”
Penutup: Tidak Sesuai Rencana, Tapi Tetap Berharga
Pada akhirnya, kegiatan komunitas belajar hari itu selesai. Target utamanya, yaitu persiapan TKA, tidak tercapai. Entahlah, mungkin ada miskomunikasi antara pemateri dan ketua komunitas belajar mengenai materi yang seharusnya disampaikan. Hari itu kami 80% belajar bahasa Inggris dan 20% mendapat motivasi.
Namun, saya tidak pulang dengan tangan kosong. Dari seorang guru yang sudah puluhan tahun mengajar, saya belajar bahwa cara menyampaikan bisa sama pentingnya dengan apa yang disampaikan. Bahwa kata-kata membentuk gambaran, dan gambaran membentuk perasaan. Bahwa kesabaran, doa, dan kemampuan memilah materi esensial adalah bekal seorang pendidik.
Semua itu saya rangkum dalam tulisan singkat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, saya akan membacanya kembali, dan mengingat bahwa pada suatu Jumat di bulan Oktober, saya pernah belajar banyak dari seorang guru yang mengajar dengan gembira.
Terima kasih sudah membaca. Kalau Anda juga punya pengalaman belajar dari seseorang yang gaya bicaranya membekas, ceritakan di kolom komentar.
.png)
0 Komentar