Tujuh Kotak Kosong
Pukul tujuh lewat empat puluh, asap sudah menutup Palangka Raya seperti selimut basah yang lupa diangkat.
Dari jendela ruang guru, bangunan di seberang jalan tinggal bayangan. Sekolah memutuskan belajar daring lagi. Ruang guru yang biasanya riuh kini hanya berisi bunyi kipas, beberapa orang, dan bau kopi yang kalah oleh bau hangus dari luar.
Di sudut ruangan, Pak Bagi menatap tujuh kotak kosong.
Tujuh nama, tujuh kotak putih di daftar nilai Matematika kelas VIII. Ia sudah memandanginya cukup lama untuk tahu satu hal: kotak tidak terisi hanya karena ditatap. Ia guru Matematika, ia paham betul. Nol dikali berapa kali pun menatap, tetap nol.
Usianya tiga puluh. Wajahnya enak dilihat tanpa pernah berusaha, tutur katanya pelan, dan ia lebih suka mendengar dulu daripada menjawab. Di sekolah itu ia dikenal sebagai orang yang bisa membereskan. Proyektor ngambek, suara Zoom hilang, formulir digital kusut — namanya yang dipanggil. "Tanya Pak Bagi dulu," kata orang-orang.
Semua masalah itu punya satu kesamaan: ada kabelnya. Ada pengaturannya. Ada sesuatu yang bisa dicabut, dipasang lagi, lalu dilihat hasilnya.
Pagi itu, ia belum tahu bahwa masalah yang akan menghampirinya tidak punya kabel.
Segera
Ia membuka WhatsApp Web dan mulai mengetuk satu per satu.
"Rafi, nilai tugasmu masih kosong, Nak. Bapak beri waktu sampai jam dua siang."
"Baik, Pak."
Dua kata, dan Pak Bagi sudah hafal rasanya. Lega sebentar, lalu curiga. Ia pernah menerima "Siap, Pak, segera saya kerjakan" dan dua hari kemudian tugasnya belum juga datang. Dalam Matematika, setiap besaran punya satuan. Segera tidak. Mungkin itu sebabnya kata itu tidak pernah muncul di soal cerita.
Dimas membalas dengan foto jawaban. Ternyata sudah masuk dari kemarin, hanya terlewat oleh Bapak. "Maaf, Bapak yang kurang teliti," ketiknya. Bima, dengan jujur yang menggemaskan, menulis bahwa tugasnya belum selesai dan ia akan mengerjakannya dulu, lah.
Lalu pesan kepada Nisa.
"Nisa, tugas yang kemarin sudah dikerjakan?"
Centang biru muncul hampir seketika. Kemudian: tiga titik, hilang, tiga titik lagi.
"Mohon maaf, Pak. HP saya masih rusak."
Masih. Ini ketiga kalinya.
Jari Pak Bagi berhenti di atas papan ketik. Ia sudah mendengar "HP rusak" dari cukup banyak murid untuk tahu bahwa kalimat itu kadang kenyataan, kadang alasan paling tua di dunia. Dari balik layar, keduanya terlihat sama persis. Layar pandai sekali menyimpan wajah orang.
Ia mengetik "Baik, Nak." Lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Mengirim.
Dan pertanyaan yang tidak ia kirim tertinggal di kepalanya: kalau aku salah menilai, siapa yang akan tahu?
Rumus yang Belum Ketemu
Di meja seberang, Bu Sajroh sedang memamerkan layar telepon genggamnya kepada Alenia.
Ia guru tertua di ruangan itu, dua tahun lagi pensiun. Sebelum ditempatkan di tengah kota, ia sudah berpindah dari desa ke desa, sebagian di pinggir hutan, tempat perjalanan ke sekolah saja sudah menuntut kesabaran ekstra. Alenia, dua puluh tiga tahun, guru termuda di sana, duduk menyimak sambil tersenyum sopan.
"Bu Thisna bulan Desember handak kawin, Alenia. Tadi malam sudah lamaran. Lihat pang, calonnya ganteng jua."
"Alhamdulillah, Bu. Mudahan lancar sampai hari H."
"Sekarang ini, belum sempat undangan sampai, fotonya sudah sampai duluan di HP kita," kata Bu Sajroh, lalu tiba-tiba menoleh. "Kalau Pak Bagi, kapan bebini?"
Tetikus di tangan Pak Bagi berhenti bergerak.
Ia menoleh dengan wajah seorang guru yang mendadak diberi soal di luar kisi-kisi. "Belum tahu, Bu."
"Masa kada tahu? Guru Matematika masa kada kawa menjawab?"
"Kalau soal Matematika ada rumusnya, Bu. Kalau soal itu, rumusnya belum ketemu."
"Makanya rajin mencari. Kalau menunggu rumusnya ketemu, ulun pensiun duluan."
Alenia tertawa lepas. Pak Bagi ikut tersenyum, senyum yang sudah ia pasang bertahun-tahun, rapi dan tidak bisa ditebak, seperti kemeja yang selalu disetrika.
Bu Sajroh tidak bermaksud buruk. Ia tahu itu. Bagi orang seusianya, pertanyaan begitu hanyalah garam di meja makan. Tetapi garam yang ditaburkan di tempat yang tak terduga tetap saja terasa.
Apakah aku akan sendiri selamanya?
Pertanyaan itu muncul tanpa permisi. Ia menyimpannya di bagian paling dalam, tempat ia menyimpan semua hal tentang hidup pribadinya. Bukan karena isinya memalukan. Hanya saja, tidak semua orang perlu diberi kunci.
"Lanjut dulu," gumamnya kepada layar. "Nilai kada bakal masuk sorangan."
Setidaknya, daftar nilai tidak pernah bertanya kapan ia menikah. Daftar nilai hanya menuntut satu hal.
Dilengkapi.
Tiga Tukang Batu
Jam istirahat. Alenia sudah masuk kelas daring. Pak Bagi masih duduk di depan kotak milik Nisa yang belum berubah.
Kursi di sebelahnya bergeser. Bu Sajroh duduk, kali ini tanpa telepon di tangan.
"Pak. Maaf. Mulut ulun ini memang kada ada remnya."
"Kada papa, Bu."
"Muka pian dari tadi seperti orang sedang menghitung sesuatu yang kada ketemu hasilnya."
Pak Bagi tertawa pendek. Lalu, entah kenapa, ia bercerita. Bukan soal bini. Soal Nisa, HP yang rusak, centang biru, dan perasaan tidak enak karena ia tidak bisa memastikan apakah ia sedang berhadapan dengan alasan atau kenyataan.
Bu Sajroh mendengarkan sampai habis. Itu hal yang jarang dilakukannya.
"Dulu, di hutan," katanya pelan, "ada murid ulun namanya Ijay. Jalan kaki dua jam ke sekolah. Hampir selalu telat. Guru-guru lain bilang inya malas. Ulun juga sempat percaya."
"Terus, Bu?"
"Tiap pagi ulun menunggu inya di pintu kelas. Kada ulun marahi. Cuma ulun tanya, sudah sarapan? Itu saja. Bertahun-tahun." Ia mengaduk teh yang sudah dingin. "Waktu itu ulun merasa cuma sedang menyusun batu, Pak. Hari-hari ulun cuma mencentang daftar hadir. Kada tahu akhirnya jadi seperti apa. Apakah batu yang ulun susun itu tetap jadi tumpukan batu, atau nanti jadi bangunan megah?"
"Dan?"
"Dua puluh tahun kemudian ada laki-laki berseragam dinas menyalami ulun di sebuah acara. Bu, ini Ijay. Ulun kada ingat mukanya. Tapi inya ingat pertanyaan ulun."
Bu Sajroh tersenyum, lalu berdiri dan pergi begitu saja, seperti orang yang baru meletakkan sesuatu di meja dan membiarkan orang lain memutuskan mau mengambilnya atau tidak.
Pak Bagi teringat sebuah kisah yang pernah ia baca. Tiga tukang batu, ditanya orang yang sama: apa yang sedang kau kerjakan?
Yang pertama menjawab, menyusun batu. Yang kedua, mencari nafkah. Yang ketiga berhenti sebentar, memandang dinding setengah jadi di depannya, dan berkata, aku sedang membangun tempat ibadah terbaik di kota ini.
Tiga orang, satu pekerjaan, tiga bangunan yang berbeda di kepala masing-masing.
Ia mencoba membayangkan tiga guru dengan pertanyaan yang sama, dan menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman: pagi ini, ia sendiri adalah guru pertama. Mengisi kotak. Mengejar angka. Menghitung berapa kolom yang masih putih.
Sementara di salah satu kolom itu, mungkin ada seorang anak yang sedang menunggu seseorang bertanya, sudah sarapan?
Dua Jam di Dalam Asap
Pukul dua kurang lima menit, Rafi mengirim tugasnya. Disusul Siti, lalu Fajar. Kotak-kotak putih itu berubah satu per satu, memuaskan seperti menyalakan lampu di lorong panjang.
Tinggal satu yang gelap.
Pak Bagi membuka data siswa. Alamat Nisa: sebuah gang di belakang pasar, tidak jauh dari sekolah dan tidak dekat dari mana pun yang berpenerangan.
Ia melirik jendela. Asap tidak berkurang. Jarak pandang mungkin lima puluh meter, kalau cukup beruntung.
Ini bukan tugas guru, bisik suara kecil di kepalanya. Kirim pesan sekali lagi. Besok saja.
Besok. Satu kata lagi yang tidak punya satuan.
Ia mengambil masker, kunci motor, lalu pergi.
Perjalanan itu seperti menyetir di dalam gelas susu. Lampu motor menyala di siang hari, bayangan toko muncul dan hilang, dan tenggorokannya mulai perih sebelum ia sampai di gang yang ia cari. Dua kali ia bertanya kepada tukang warung. Satu kali ia hampir salah masuk rumah.
Rumah Nisa kecil, berdinding papan, dengan terpal biru di sisi yang bocor. Ia mengetuk.
Pintu terbuka sedikit. Wajah Nisa muncul, kaget, pucat, lalu cepat-cepat tegang, seperti anak yang melihat petugas datang menagih sesuatu.
"Pak... Bapak kenapa ke sini? Ulun salah apa, Pak?"
"Kada salah apa-apa, Nak. Bapak cuma mau tahu tugasmu."
Nisa terdiam lama. Kemudian ia masuk, dan keluar lagi sambil memeluk sebuah kantong plastik, memeluknya hati-hati, seperti membawa sesuatu yang bisa pecah.
"Sudah ulun kerjakan, Pak," katanya lirih. "Dari kemarin. HP ulun layarnya pecah, kada mau menyala. Ulun kada tahu cara mengirimnya. Ulun... malu bilang. Takut Bapak mengira ulun mengada-ada."
Pak Bagi mengambil kantong itu. Di dalamnya ada buku tulis bergaris, dengan sampul yang sudah melengkung oleh seringnya dibuka. Sebelas halaman penuh. Tulisan tangan yang rapat dan hati-hati, setiap langkah ditulis, setiap angka diberi garis bawah, seperti anak yang percaya bahwa ketelitian bisa menggantikan HP.
Di halaman kesebelas, ada soal yang selesai dengan cara yang tidak pernah ia ajarkan. Benar, dan lebih singkat dari caranya sendiri. Di pinggir halaman, dengan pensil, tertulis:
Cara Bapak kada masuk di akal ulun. Jadi ulun cari cara lain.
Pak Bagi membaca kalimat itu dua kali.
Selama ini ia mengira ia pandai menyelesaikan masalah, dan itu benar, selama masalahnya bisa dicabut dan dipasang kembali. Tetapi pagi ini ada seorang anak yang diam-diam menyelesaikan sebelas halaman soal di lantai papan rumahnya, lalu membungkusnya dengan plastik agar tidak basah, lalu tidak berani mengatakannya kepada siapa pun.
Bukan karena malas. Karena takut tidak dipercaya.
Dan pertanyaan itu, bagaimana aku bisa tahu, ia lemparkan sendiri ke layar sejak pagi tanpa pernah bertanya apa yang sedang ia lewatkan di baliknya.
Tenggorokannya mengencang, dan ia yakin itu bukan karena asap.
Ia memotret setiap halaman dengan telepon genggamnya. Sebelas kali, pelan-pelan, memastikan tidak ada angka yang terpotong.
"Besok bawa HP itu ke sekolah ya. Kita lihat apa yang bisa Bapak lakukan."
Nisa mengangguk. Lalu, sebelum Pak Bagi membalikkan badan, ia bertanya kecil sekali:
"Pak... ulun terlambat, kah?"
Pak Bagi menggeleng.
"Kamu tidak terlambat, Nak," katanya. "Bapak yang terlambat sampai."
Angka
Ruang guru hampir kosong ketika ia kembali. Asap masih menggantung di jendela, kini dengan warna jingga muram khas sore hari.
Pak Bagi duduk. Ia membuka kotak milik Nisa, dan untuk beberapa saat tidak mengetik apa-apa.
Lalu ia memasukkan angkanya.
Tidak ada yang istimewa dari angka itu. Hanya dua digit di sebuah kotak putih. Tetapi sepanjang sebelas tahun ia menjadi guru, ia belum pernah merasa sebuah angka seberat itu, seolah-olah di dalamnya ada kantong plastik, sampul yang melengkung, dan pensil yang menulis ulun cari cara lain.
"Dari mana, Pak? Wajah pian kena asap kayak orang habis perang."
Bu Sajroh berdiri di pintu dengan tas di bahu. Ia belum pulang. Ia memang tidak pernah terlihat buru-buru kalau ada sesuatu yang sedang ia tunggu.
"Mencari rumus, Bu."
"Ketemu?"
"Bukan yang Ibu tanyakan tadi pagi." Pak Bagi tersenyum, kali ini bukan senyum yang rapi dan tak terbaca, melainkan yang agak lelah, agak jujur. "Tapi sebagian."
Bu Sajroh mengangguk, lama. Ia tidak bertanya lebih jauh. Barangkali ia memang sudah mengerti tanpa perlu diberi tahu.
"Jadi," katanya akhirnya, nada suaranya kembali menggoda, tapi lebih lembut, "kapan pulang membawa bini?"
Pak Bagi menyandarkan punggung. Di hadapannya, tujuh kotak sudah terisi. Di luar, asap belum juga pergi.
"Batunya masih disusun, Bu," jawabnya. "Bangunannya belum kelihatan."
Bu Sajroh tertawa pendek. "Jawaban itu ulun terima. Nilainya delapan puluh."
"Cuma delapan puluh?"
"Dua puluhnya tunggu sampai bangunannya jadi."
Ia pergi, langkahnya pelan menyusuri koridor yang sudah sepi.
Pak Bagi menatap jendela sebentar. Ia tidak tahu bangunan apa yang sedang ia dirikan, mungkin seorang kepala sekolah, mungkin seorang penulis, mungkin sekadar guru Matematika di sebuah kelas kecil di kota yang berasap. Ia juga tidak tahu apakah suatu hari seseorang akan menyalaminya dan berkata, Pak, ini Nisa.
Tetapi satu hal ia tahu persis.
Hari ini, ia tahu batu mana yang baru saja ia pasang.

0 Komentar