Salah Ruangan, Salah Undangan

Pagi itu, seperti biasa, ruang guru mulai ramai oleh aktivitas siswa yang keluar masuk untuk mengisi presensi. Dua sampai tiga orang siswa bergantian memindai barcode kehadiran yang sengaja diletakkan tepat di bagian dalam pintu masuk ruang guru. Selain memudahkan presensi, letaknya juga cukup strategis. Saat pulang sekolah, siswa bisa sekalian mengambil ponsel yang mereka titipkan kepada wali kelas.

Cahaya matahari pagi masih tampak redup. Dari balik beberapa gorden yang terbuka, terlihat bahwa kondisi Kota Palangka Raya belum juga membaik. Asap masih menyelimuti kota. Pemandangan yang belakangan ini sudah terlalu akrab, meskipun tidak pernah benar-benar nyaman untuk dinikmati.

Setiap tiba di sekolah, saya punya rutinitas kecil yang hampir tidak pernah berubah. Mengisi presensi, menyalakan laptop, lalu pergi sebentar ke toilet untuk merapikan rambut. Perjalanan sekitar tiga puluh menit menggunakan sepeda motor dan helm selalu berhasil membuat rambut tebal saya berubah bentuk. Bukan sekadar berantakan, tetapi seperti baru saja mengalami musibah kecil.

Setelah itu, saya menyeduh kopi hitam pahit. Laptop dibiarkan menyala, ponsel saya letakkan agak jauh, kemudian saya mengambil salah satu buku bacaan dari tumpukan di meja. Biasanya novel atau buku nonfiksi, bukan buku pelajaran. Ada kenikmatan tersendiri memulai pagi dengan membaca sambil menyeruput kopi. Rasanya seperti memberi kesempatan kepada otak untuk bangun perlahan sebelum berhadapan dengan berbagai persoalan matematika dan tingkah laku siswa.

Pagi itu saya sedang asyik membaca novel. Sesekali saya tertawa kecil karena dialog tokohnya yang lucu. Saya berusaha menahan tawa agar tidak dianggap aneh oleh guru-guru lain. Namun, rupanya kemampuan saya mengendalikan ekspresi masih kalah jauh dibandingkan kemampuan penulis novel membuat pembacanya tertawa.

Di tengah suasana itu, ponsel bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Bu Ida, guru Bahasa Indonesia di sekolah kami. Bu Ida termasuk guru muda yang rajin dan sering datang lebih pagi daripada guru lainnya. Pesan itu berisi sebuah dokumen dengan nama Undangan Rapat.

Belum sempat saya membaca seluruh isi surat, dari tempat duduknya yang berjarak sekitar empat meter, Bu Ida sudah menjelaskan.

“Itu ada undangan, Pak, untuk lomba hari Senin. Tapi saya tidak bisa ikut karena ada jadwal lain,” katanya dengan nada sedikit memelas.

Beberapa detik saya diam sejenak, tak menjawab.

“Oke, nanti saya bisa gantikan untuk hadir,” jawab saya singkat.

“Terima kasih, Pak.”

Seminggu sebelumnya, kami memang sudah mendaftarkan tiga siswa untuk mengikuti lomba pidato dan puisi bahasa daerah, yaitu bahasa Dayak. Lomba tersebut rencananya dilaksanakan tiga hari lagi. Dari undangan yang sekilas saya baca, tercantum tempat dan waktu kegiatan. Saya langsung berasumsi bahwa pertemuan hari itu adalah technical meeting atau pengarahan teknis bagi peserta dan guru pendamping.

Asumsi itu terasa masuk akal. Dalam beberapa lomba yang pernah kami ikuti, biasanya memang ada pertemuan teknis sebelum perlombaan dilaksanakan.

Saya tidak merasa perlu membaca surat itu terlalu teliti. Toh, pikir saya, hanya rapat teknis. Datang, duduk, mendengarkan penjelasan, mencatat informasi penting, lalu pulang. Sederhana.

Ternyata, justru di situlah awal masalahnya.

Kegiatan dalam undangan dijadwalkan pukul 14.00. Sementara itu, hari Jumat sekolah sudah memulangkan siswa sekitar pukul 09.30. Karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh, saya memutuskan untuk menunggu di sekolah saja setelah salat Jumat. Kebetulan lokasi kegiatan berada di jalur yang biasa saya lewati saat pulang.

Tidak terasa, jam menunjukkan pukul 13.45. Saya yang sempat merebahkan badan di meja tamu ruang guru segera bangun. Setelah merapikan barang-barang, saya bersiap berangkat.

Gedung Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya bukan tempat yang sepenuhnya asing bagi saya. Ini adalah kali kedua saya berkegiatan di sana. Jaraknya sekitar lima belas menit dari sekolah.

Jalanan kota siang itu tidak terlalu ramai. Namun, udara masih belum bersahabat. Asap kendaraan bercampur dengan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Kacamata yang saya kenakan ternyata tidak cukup ampuh melindungi mata dari rasa perih. Sepanjang perjalanan, mata tetap terasa pedas, seolah-olah sedang dipaksa mengiris bawang dalam jumlah besar.

Sesampainya di gedung Dinas Pendidikan, saya mulai celingak-celinguk mencari ruangan yang dimaksud. Kegiatan sebelumnya dilaksanakan di aula, sedangkan undangan kali ini menyebutkan ruang rapat.

Di mana ruang rapatnya?

Sambil melepas helm dan jaket, saya melihat seorang bapak duduk sendirian di depan sebuah pintu. Tubuhnya cukup kekar, rambutnya sudah beruban, dan ia mengenakan kaus ketat yang sekilas mengingatkan saya pada seragam petugas keamanan. Tanpa ragu saya menghampirinya.

“Pak, saya ada undangan kegiatan di ruang rapat. Ruangannya di mana, ya, Pak?” tanya saya sopan.

Bapak itu langsung berdiri.

“Oh iya, Pak. Mau rapat, ya? Ayo ikut saya.”

Saya pun mengikuti langkahnya dari belakang.

Kami melewati pintu kaca, kemudian melewati bagian resepsionis. Setelah itu, bapak tersebut membuka sebuah pintu yang harus menggunakan kode angka untuk bisa masuk. Belok kiri, belok kiri lagi, lalu menaiki tangga menuju lantai dua.

Saya mulai merasa seperti sedang mengikuti petunjuk dalam sebuah permainan petualangan. Bedanya, kalau salah jalan dalam permainan, kita bisa mengulang dari awal. Kalau salah jalan di gedung pemerintahan, bisa-bisa malah masuk ke ruangan yang tidak ada hubungannya dengan urusan kita.

“Apakah bisa lewat jalan lain, Pak?” tanya saya memecah keheningan. Sebenarnya saya hanya ingin memastikan agar nanti bisa keluar tanpa tersesat.

“Hanya bisa lewat satu jalur ini saja, Mas,” jawabnya sambil tersenyum.

Senyumnya memperlihatkan kerutan di pipi dan dahinya.

“Sudah sampai, Mas. Silakan masuk.”

“Terima kasih, Pak,” jawab saya sambil sedikit menundukkan kepala.

Saya merasa sangat terbantu. Dalam hati, saya mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada bapak yang saya kira petugas keamanan itu. Saya belum tahu bahwa beberapa menit kemudian, saya justru akan mengalami kebingungan yang jauh lebih besar daripada mencari ruangan.

Di lantai dua, tepat sebelum masuk ke ruang rapat, ada tiga orang ibu-ibu mengenakan batik khas Kalimantan Tengah yang sedang berbincang. Salah satunya berjilbab. Ia kemudian berpamitan.

“Saya salat dulu, ya. Silakan masuk, Bu. Pak, silakan masuk juga.”

Saya mengangguk. Seorang ibu lainnya, yang sepertinya tidak jauh berbeda usianya dengan saya, kemudian membukakan pintu.

“Silakan masuk, Pak.”

Saya masuk sambil mengucapkan salam.

Ruangan itu ternyata cukup kecil. Ada satu meja persegi panjang yang dikelilingi sekitar sepuluh kursi kantor. Di bagian ujung dinding terpasang sebuah monitor televisi berwarna hitam yang sepertinya digunakan untuk presentasi.

Saya menyalami beberapa orang yang sudah berada di dalam ruangan. Setelah itu, saya berdiri sekitar tujuh detik, bingung menentukan tempat duduk.

Benarkah ini ruang rapat yang dimaksud?

Ruangan ini kecil sekali. Saya memperkirakan dua puluh orang saja tidak akan cukup tertampung. Sementara itu, undangan rapat biasanya melibatkan cukup banyak orang.

Tidak lama kemudian, beberapa orang lainnya masuk. Ada seorang ibu dan seorang bapak yang usianya mungkin sekitar lima puluh tahun lebih. Salah satu ibu menunjuk kursi di bagian tengah meja.

“Kamu aja duduk di sana.”

Ia sendiri menunjuk kursi yang berada dekat pintu masuk.

Saya pun duduk di kursi yang diarahkan. Meskipun masih sedikit ragu, saya berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Bapak yang mengantar saya tadi pasti tahu ruangan yang benar. Tidak mungkin beliau salah mengarahkan tamu.

Di dalam ruangan itu ada empat orang ibu-ibu dan seorang bapak. Dari penampilan dan pembawaannya, saya menduga mereka adalah guru-guru senior.

Mereka mulai berbincang satu sama lain.

Sayangnya, percakapan itu menggunakan bahasa Dayak.

Saya hanya bisa duduk sambil mendengarkan suara percakapan yang sama sekali tidak saya pahami. Memang, saya sudah lama tinggal di Kalimantan Tengah. Namun, lingkungan pergaulan saya lebih banyak menggunakan bahasa Banjar dan Jawa. Beberapa teman guru memang sesekali berbicara menggunakan bahasa Dayak, tetapi biasanya tetap dicampur dengan bahasa Indonesia agar semua orang bisa memahami.

Kali ini berbeda. Percakapannya berlangsung lancar, cepat, dan penuh semangat. Sementara saya hanya bisa menyimak tanpa tahu apakah mereka sedang membicarakan lomba, pekerjaan, makanan, atau bahkan sedang membicarakan saya.

Saya mencoba tetap tenang. Sesekali melihat ponsel, sesekali mengamati ruangan. Pokoknya berusaha terlihat seperti orang yang memang sedang menunggu rapat dimulai.

Tiba-tiba, ibu yang duduk di sebelah saya, mengenakan jilbab hitam dan batik merah khas Kalimantan Tengah, mengajukan pertanyaan.

Menggunakan bahasa Dayak.

Dari awal sampai akhir.

Saya tidak tahu apakah itu pertanyaan atau pernyataan. Yang jelas, kalimat itu ditujukan kepada saya.

Dan tiba-tiba, semua mata di ruangan tersebut tertuju kepada saya.

Mereka menunggu jawaban.

Astaga! Apa ini?

Dalam hati saya bergumam, Ini lebih sulit daripada ujian tesis S2 saya.

Saat ujian tesis, setidaknya saya tahu topik yang sedang dibahas. Saya bisa menjelaskan teori, metode penelitian, hasil, bahkan berdebat dengan dosen penguji. Namun, kali ini saya bahkan tidak tahu apa yang sedang ditanyakan.

Dengan kemampuan bahasa Dayak yang sangat terbatas, saya memilih jawaban paling aman.

“Iya, Bu. Iya, Bu.”

Saya mengucapkannya sambil tersenyum.

Senyum yang seharusnya terlihat ramah, tetapi mungkin justru tampak seperti senyum seekor kuda yang sedang berusaha menyembunyikan kegelisahan.

Setelah jawaban itu keluar, ruangan mendadak hening.

Tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara pendingin ruangan.

Beberapa detik terasa sangat panjang. Semua orang memandang saya dengan ekspresi bingung. Entah apa yang mereka pikirkan. Mungkin mereka sedang bertanya-tanya, mengapa orang ini menjawab iya padahal belum tentu memahami pertanyaannya.

Saya pun ikut bingung.

Untungnya, keheningan itu tidak berlangsung lama. Mereka kembali berbincang seperti semula.

Saya mencoba memecah suasana. Kali ini dengan pertanyaan yang saya yakini bisa dipahami semua orang.

“Bu, apakah semua orang diundang?” tanya saya pelan kepada ibu yang tadi mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa Dayak.

Tidak ada jawaban.

Ibu itu sibuk menatap ponselnya. Mungkin tidak mendengar suara saya. Saya masih berusaha berpikir positif. Bisa jadi suara saya terlalu pelan.

Namun, ibu berambut sebahu yang mengenakan batik biru justru menoleh dan menatap saya. Ia mendengar pertanyaan itu, tetapi tidak menjawab karena memang bukan kepadanya pertanyaan tersebut ditujukan.

Tatapannya cukup tajam.

Saya langsung salah tingkah.

Rasanya seperti baru saja bertanya kepada orang yang salah di tengah ruang ujian.

Saya kembali menunduk, mengalihkan perhatian ke ponsel. Sesekali mata saya melihat foto-foto kegiatan anak-anak PAUD yang ditempel di dinding ruangan. Entah mengapa, foto-foto itu terasa lebih menarik daripada percakapan yang sedang berlangsung.

Ibu berbatik biru itu kembali menatap saya. Mungkin ia mulai menyadari bahwa saya tidak memahami bahasa Dayak. Saya pun memilih kembali melihat layar ponsel. Kami seperti sedang bermain permainan saling menghindari pandangan.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan berderit.

Seorang perempuan berkacamata dengan jilbab berwarna krem masuk. Ia langsung menuju monitor televisi dan menyalakannya.

Saat itu saya merasa sedikit lega.

Akhirnya, ada seseorang yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

“Mungkin ini orang pentingnya,” pikir saya.

Setelah menyalakan monitor, ibu berkacamata itu berbalik menghadap kami.

“Aduh, tadi ada guru pendamping yang juga ingin masuk. Ruangannya tidak cukup, jadi saya minta pulang dan menunggu informasi setelah rapat ini.”

Saya terdiam.

Kalimat itu seperti potongan teka-teki yang belum selesai. Saya mencoba mencerna maksudnya.

Guru pendamping?

Ruangannya tidak cukup?

Menunggu informasi setelah rapat?

Sebentar. Saya kan datang menggantikan Bu Ida sebagai guru pendamping. Lalu, bapak yang mengantar saya tadi juga mempersilakan saya masuk. Jadi, sebenarnya ini rapat apa?

Saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Jadi ini bukan technical meeting untuk guru pendamping, ya, Bu?” tanya saya spontan memastikan.

“Iya, Pak. Benar. Ini rapat khusus juri. Untuk guru pendamping nanti akan diinformasikan setelah rapat dalam bentuk surat. Undangan ini ditujukan untuk panitia dan juri,” jelasnya.

ASTAGA!

Saya langsung memahami semuanya.

Saya salah membaca undangan.

Rupanya, sejak awal saya datang ke tempat yang benar, masuk melalui jalur yang benar, menaiki tangga yang benar, bahkan duduk di kursi yang benar. Hanya satu yang keliru: saya datang ke rapat yang bukan untuk saya.

Lebih parah lagi, sejak tadi saya duduk bersama para juri sambil mengira mereka adalah guru-guru pendamping. Bahkan, saya sempat berusaha ikut berbincang meskipun tidak memahami bahasa yang mereka gunakan.

“Mohon maaf, Bu. Saya kira yang diundang adalah semua guru pendamping. Kalau begitu, saya izin pulang, Bu,” kata saya.

Saya segera berdiri, mengambil tas yang sejak tadi diletakkan di kursi, lalu menyalami ibu berkacamata itu.

“Terima kasih, ya, Pak, sudah menyempatkan waktu untuk datang,” katanya.

Saya tersenyum kecil. Senyum yang kali ini tidak lagi berusaha menjawab pertanyaan dalam bahasa Dayak.

Sebelum keluar, saya sempat menoleh kepada orang-orang yang sejak tadi saya kira guru-guru pendamping. Ternyata mereka adalah para juri. Saya pun mengangguk dan tersenyum kepada mereka.

Dalam hati saya berkata, Mohon maaf, Bapak dan Ibu. Tadi saya sudah duduk cukup lama di antara kalian, tetapi sebenarnya saya tidak punya urusan di rapat ini.

Saya keluar ruangan dengan langkah yang sedikit dipercepat. Bukan karena dikejar waktu, melainkan karena ingin segera meninggalkan tempat yang beberapa menit sebelumnya membuat saya merasa seperti peserta ujian bahasa yang tidak pernah belajar.

Di dekat tangga, saya melihat beberapa orang guru pendamping lain. Ada tiga perempuan muda yang berdiri sambil berbincang. Sekilas saya mendengar salah seorang dari mereka berkata,

“Ih, iya, aku kira ini undangan untuk guru. Makanya ke sini.”

Saya hanya tersenyum dalam hati.

Ternyata saya tidak sendirian.

Ada korban lain dari undangan yang kurang teliti dibaca.

Saya melewati mereka, menuruni tangga, belok kiri, belok kiri lagi, lalu menuju pintu yang tadi harus dibuka menggunakan kode angka. Ternyata, dari dalam pintu itu bisa dibuka begitu saja tanpa memasukkan kode.

Saya sempat berpikir, Lho, ternyata pulangnya lebih mudah daripada masuk.

Saya melewati resepsionis dan pintu kaca, lalu tiba di luar gedung. Di sana terlihat seorang guru laki-laki, seumuran atau mungkin lebih muda daripada saya, sedang duduk sendirian.

Saya memperhatikannya sekilas.

Wah, ini pasti juga korban karena kurang teliti membaca undangan, pikir saya sambil tersenyum.

Perjalanan siang itu memberi saya pelajaran sederhana, tetapi cukup mahal ongkosnya. Saya menghabiskan waktu sekitar satu jam perjalanan pulang-pergi, menghadapi asap yang membuat mata perih, melewati beberapa pintu, menaiki tangga, duduk di ruang rapat, dan mengalami percakapan yang tidak saya pahami.

Semua itu hanya karena tidak membaca undangan sampai selesai.

Saya jadi teringat kebiasaan ketika menerima pesan atau dokumen di WhatsApp. Sering kali kita terlalu cepat menyimpulkan isi pesan hanya dari nama file, beberapa kalimat pertama, atau informasi yang disampaikan orang lain. Padahal, satu baris kecil dalam surat bisa menentukan apakah kita memang termasuk orang yang harus hadir atau tidak.

Hari itu saya belajar bahwa pentingnya membaca undangan sampai tuntas, jangan cuma sampai bagian jam dan tempat. Dan kalau ada yang bertanya dalam bahasa yang tidak kamu mengerti, jangan langsung menjawab “iya”. Siapa tahu kamu baru saja jadi ketua panitia.

Posting Komentar

0 Komentar