Saya mendapat jadwal mengajar di kelas 8B, mulai pukul 07.30 sampai 09.00.
Pagi itu, sebenarnya ada kegiatan praktik yang sudah saya rencanakan. Namun, ruang laboratorium TIK sedang digunakan untuk kegiatan oleh guru lain. Akibatnya, pembelajaran harus dilaksanakan di dalam kelas.
Saya sebenarnya bisa saja meminta anak-anak melakukan praktik menggunakan HP masing-masing. Akan tetapi, menurut saya, menggunakan komputer sekolah akan jauh lebih mudah dan efektif. Akhirnya, praktik saya undur sampai minggu depan.
"Anak-anak, ambil buku LKS kalian. Hari ini kita akan latihan soal untuk persiapan Penilaian Sumatif Akhir," ucap saya cukup nyaring dari depan kelas.
Anak-anak langsung sibuk membuka tas masing-masing. Ada yang membuka resleting tas, mengeluarkan buku, memasukkannya kembali, lalu mengeluarkan buku yang lain. Entah apa saja isi tas anak-anak zaman sekarang. Menemukan satu buku LKS saja rasanya seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami.
"Ngerjakan halaman berapa, Pak?" tanya Carisa dengan suara nyaring dan penuh ketidaksabaran.
Carisa adalah sekretaris kelas. Tempat duduknya tepat di depan, persis berhadapan dengan meja guru. Ia bertanya sambil membolak-balik halaman LKS, seolah-olah nomor halaman yang saya maksud bisa muncul sendiri jika bukunya dibuka cukup cepat.
Waktu pembelajaran hanya satu jam. Setelah menghabiskan beberapa menit untuk mengondisikan kelas dan mengecek kehadiran murid satu per satu, waktu efektif tinggal sekitar lima puluh menit.
Saya juga sedang berusaha menghafal nama-nama mereka. Maklum, baru semester ini saya mengajar kelas 8B. Ada ratusan murid di sekolah ini. Menghafal semua nama tentu bukan perkara mudah. Salah satu cara saya mengingat mereka adalah dengan mengabsen secara langsung. Setidaknya, wajah dan nama mereka perlahan mulai terhubung di kepala saya.
Saya bergegas berdiri dan menuliskan tugas beserta nomor halamannya di papan tulis menggunakan spidol hitam yang ujungnya sudah mulai tumpul. Tulisan saya sedikit tebal di beberapa bagian dan tipis di bagian lainnya. Sepertinya spidol itu juga sedang mengalami masa-masa sulit.
"Anak-anak, untuk hari ini kalian boleh menggunakan HP untuk mencari jawaban," ucap saya sambil mendongakkan kepala, memastikan murid yang duduk paling belakang bisa mendengar.
"Yeeyyy!"
Seketika kelas menjadi riuh. Beberapa anak terlihat tersenyum lebar, ada yang langsung melirik temannya, dan ada pula yang tampak sangat bersemangat.
Salah satu aturan di sekolah kami adalah murid tidak diperbolehkan menggunakan HP selama pembelajaran. Ketika datang ke sekolah, HP harus dikumpulkan terlebih dahulu dan baru boleh diambil saat bel pulang berbunyi. HP hanya boleh digunakan jika mendapat izin dari guru atau wali kelas.
Jadi, bagi mereka, izin menggunakan HP di tengah pembelajaran mungkin terasa seperti mendapatkan bonus hari libur di tengah pekan.
Namun, saya belum selesai.
"Tapi, tidak boleh menggunakan AI! Hanya boleh menggunakan Google."
Seketika, wajah bahagia anak-anak mulai berubah. Senyum yang tadinya lebar perlahan menghilang. Beberapa mengernyitkan dahi.
"Yaaaah, Bapak!"
Saya tersenyum melihat reaksi mereka.
"Aturan adalah aturan. Kalau ketahuan Bapak menggunakan AI, nilainya nol."
Tentu saja, kalimat terakhir itu sedikit saya dramatisasi agar mereka benar-benar memperhatikan aturan.
Saya sengaja membatasi penggunaan AI. Bukan karena saya anti terhadap teknologi kecerdasan buatan. Justru sebaliknya, sebagai guru Informatika, saya ingin mereka memahami bagaimana teknologi bekerja dan bagaimana menggunakannya secara bijak.
Namun, untuk latihan kali ini, saya ingin mereka membaca, mencari, membandingkan, dan memilah informasi sendiri. Jika semuanya diserahkan kepada AI, lima menit pun mungkin seluruh soal sudah selesai. Jawabannya tersedia, tetapi belum tentu pemahaman mereka ikut bertambah.
Anak-anak mulai menghadap LKS dan mencari informasi melalui HP masing-masing. Kelas yang tadinya riuh perlahan berubah menjadi tenang.
Tujuh menit berlalu.
Saya berkeliling memantau pekerjaan mereka. Dari jarak sekitar tiga meter di belakang seorang murid, saya melihat gelagat yang sedikit mencurigakan. Ia membuka kamera HP, mengarahkan kameranya ke soal di buku, lalu beberapa detik kemudian muncul jawaban di layar.
Saya memperhatikan dari jauh.
Wah, rupanya ada yang menemukan jalan pintas.
"Anak-anak, ada aturan tambahan. Kalian tidak boleh menggunakan Google Lens!"
Seketika murid yang sedang saya amati menutup jendela aplikasi Google Lens. Saya tidak perlu menyebut namanya. Cukup memberikan pengumuman umum, dan semoga yang bersangkutan merasa sedang diajak berbicara secara pribadi.
Ternyata, murid itu adalah Carisa.
Sekretaris kelas yang tadi paling bersemangat menanyakan halaman LKS rupanya juga cukup kreatif dalam mencari jawaban. Setelah Google Lens tidak bisa digunakan, Carisa tidak menyerah begitu saja. Ia beralih menggunakan fitur rekaman suara.
Saya memperhatikannya sebentar. Ia mengetik teks dan menggunakan rekaman audio untuk mencari informasi.
Cara itu masih saya perbolehkan. Setidaknya, mereka tetap harus membaca, mengetik, mendengarkan, dan memilah informasi yang ditemukan. Teknologi boleh membantu, tetapi otak jangan sampai ikut libur.
Sepuluh menit berikutnya berlalu. Saya kembali mengingatkan waktu.
"Waktunya sepuluh menit lagi!"
Lebih dari setengah murid masih sibuk mengerjakan soal. Ada yang membaca LKS dengan serius, ada yang menggulir layar HP, dan ada pula yang sesekali menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan teman sebangkunya tidak menemukan jawaban yang lebih cepat.
Soal yang saya berikan memang tidak hanya berupa pilihan ganda biasa. Ada pilihan ganda kompleks dan soal memasangkan. Jadi, mereka harus benar-benar memahami informasi sebelum menentukan jawaban.
Di bagian paling belakang kelas, ada seorang murid laki-laki bernama Rafa. Rambutnya memang tidak panjang, tetapi tebal dan sedikit mengembang. Potongan rambutnya cepak, meskipun ketebalannya membuat rambut itu sulit benar-benar terlihat rapi.
Rafa termasuk tipe murid yang unik. Jika diberi waktu lima puluh menit untuk mengerjakan soal, empat puluh menit pertama bisa digunakan untuk bermain, bercanda, atau mengganggu teman. Sepuluh menit terakhir barulah ia terlihat seperti orang yang sedang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
Ketika saya mengumumkan waktu tinggal sepuluh menit, Rafa mulai celingukan ke kiri dan kanan. Wajahnya tampak berubah. Ia mulai menyadari bahwa waktu tidak bisa diajak berkompromi.
"Lima menit lagi waktunya! Angkat tangan bagi yang belum selesai!" seru saya.
Lima orang mengangkat tangan. Salah satunya Rafa.
Saya memperhatikan anak itu dari depan kelas. Rambut tebalnya yang sejak tadi tampak cukup tenang kini seolah ikut panik. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, membuat rambutnya ikut bergoyang ke sana kemari, bak rumpun rumput ilalang yang diterpa angin topan.
Dalam hati saya berpikir, sepertinya bukan hanya pikirannya yang sedang berpacu dengan waktu. Rambutnya pun ikut merasakan tekanan lima menit terakhir.
Ada-ada saja Rafa.
"Lima, empat, tiga, dua, satu. Waktu habis! Semua LKS dan HP kumpulkan di meja Bapak!"
Anak-anak langsung berdiri. Suasana kelas mendadak ramai. Mereka berebut mengumpulkan LKS dan HP seperti orang-orang yang sedang mengantre menerima bantuan sosial. Bedanya, tidak ada beras atau minyak goreng yang dibagikan. Yang mereka tunggu hanya satu: waktu istirahat.
Barangkali dalam pikiran mereka, kantin sekolah sudah memanggil-manggil. Ciki-ciki, minuman dingin, dan berbagai jajanan lainnya tentu lebih menarik daripada soal Informatika yang sejak tadi mereka kerjakan.
Bel berbunyi.
Saya menutup pembelajaran dengan salam. Anak-anak berhamburan keluar melewati pintu kelas. Beberapa langsung berjalan menuju kantin, sementara yang lain sibuk mencari teman dan mengambil barang-barang mereka.
Saya pun keluar kelas bersama mereka.
Hari itu saya mendapatkan satu pelajaran kecil. Memberikan izin menggunakan HP ternyata bisa membuat anak-anak begitu bersemangat. Melarang AI justru membuat mereka sedikit kecewa. Rupanya, bagi sebagian murid, mencari jawaban sendiri sudah terasa seperti pekerjaan tambahan.
Namun, saya tidak sedang berusaha menjauhkan mereka dari AI. Saya hanya ingin memastikan bahwa sebelum mereka terbiasa meminta mesin berpikir, mereka terlebih dahulu belajar menggunakan pikirannya sendiri.
Sebab, teknologi boleh semakin pintar, tetapi jangan sampai penggunanya justru semakin malas berpikir.
Dan untuk Rafa, semoga pada latihan berikutnya ia bisa menggunakan empat puluh menit pertamanya untuk mengerjakan soal, bukan untuk menjalani kehidupan sosial di bangku paling belakang. Dengan begitu, rambutnya tidak perlu lagi mengalami badai pada lima menit terakhir.

0 Komentar