Sampai Kapan Kabut Asap Ini Kita Anggap Biasa?

Langit hari ini menguning pekat dan keruh.

Cahaya matahari pagi bercampur dengan asap kebakaran hutan dan lahan. Suasana terasa seperti mendung, tetapi hawa justru terasa panas. Udara yang seharusnya segar untuk mengawali aktivitas pagi berubah menjadi sesuatu yang harus kami waspadai.

Pembelajaran Jarak Jauh secara daring masih berlangsung di Kota Palangka Raya. Sudah lebih dari sebulan PJJ dilaksanakan, sejak Jumat, 28 Agustus 2026 hingga hari ini.

Beberapa guru pagi ini duduk di depan laptop masing-masing untuk mengajar secara daring. Ada yang menggunakan Google Meet, ada pula yang menggunakan Zoom Meeting.

Murid-murid belajar dari rumah masing-masing.

Tetapi guru tetap wajib hadir mengajar di sekolah.

Seakan tersirat sebuah makna bahwa guru kebal terhadap asap, tetapi tidak dengan murid. Murid bisa sakit, tetapi tidak dengan guru. Murid harus dilindungi dari udara yang tidak sehat, sedangkan guru harus tetap datang dan bekerja seperti biasa.

Guru-guru harus kuat.

Dan terkadang, dipaksa untuk kuat.

Ketika Bernapas Pun Menjadi Dilema

Walaupun kami bekerja di dalam ruangan, masker hampir tidak pernah lepas dari wajah.

Tetapi ada kalanya karena pengapnya pernapasan di dalam ruangan, saya dan beberapa guru akhirnya melepas masker.

Memang serba salah.

Tidak menggunakan masker berarti kami akan lebih banyak menghirup asap. Menggunakan masker membuat kami kesulitan bernapas.

Saya sendiri menempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor dari rumah menuju sekolah.

Tebalnya asap tidak lagi hanya membuat pernapasan terasa tidak nyaman. Mata pun terasa pedih, meskipun saya sudah menggunakan kacamata sekaligus menutup kaca helm.

Sesampainya di sekolah, saya melihat hitamnya debu di lantai menuju ruang guru. Padahal lantai tersebut sudah dibersihkan.

Rupanya air saja tidak cukup untuk menghilangkannya.

Debu juga menempel di meja-meja guru. Baju putih bersih yang saya kenakan pun sedikit kotor setelah bersandar ketika mengajar.

Hal-hal kecil tersebut menjadi bukti betapa parahnya kabut asap di kota ini.

Kami harus menghirup udara yang sangat kotor setiap harinya.

Kami membawa kotoran itu ke dalam ruang kerja.

Dan tentu saja, tubuh kami juga menjadi bagian dari dampaknya.

Di tengah kondisi seperti itu, saya membaca pernyataan berikut:

"Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan kondisi masyarakat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat masih berjalan normal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (23/9/2026)."

Di sisi lain:

"Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya mencatat 9.324 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Juni hingga September 2026."

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:

Apakah ini bisa dikatakan normal?

Mungkin dari sudut pandang tertentu aktivitas masyarakat memang masih berjalan. Sekolah masih mengajar. Kantor masih buka. Pasar masih ramai. Kendaraan masih berlalu-lalang.

Tetapi apakah sesuatu yang tetap berjalan otomatis berarti keadaan tersebut normal?

Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, setiap pagi saya melihat langit yang berbeda.

Saya merasakan mata yang pedih.

Saya mencium udara yang tidak lagi terasa seperti udara biasa.

Dan saya melihat anak-anak harus belajar dari rumah karena kondisi udara yang tidak memungkinkan pembelajaran seperti biasa.

Anak-Anak Mulai Lelah

PJJ sudah berlangsung lebih dari satu bulan.

Saya bisa memahami jika anak-anak mulai merasa bosan.

Setiap minggu, jumlah murid yang hadir dalam pembelajaran daring perlahan berkurang. Hanya beberapa murid yang tetap konsisten mengikuti pembelajaran.

Alasannya beragam.

Ada orang tua yang harus bekerja sehingga tidak dapat mengawasi anak belajar di rumah.

Ada murid yang hanya memiliki satu telepon genggam di rumah. Ponsel tersebut merupakan milik orang tua dan digunakan untuk bekerja.

Ada yang tidak memiliki kuota.

Ada yang tidak memiliki Wi-Fi.

Ada pula yang sedang sakit karena ISPA atau memiliki kondisi seperti asma.

Dalam kondisi seperti ini, guru tidak bisa memaksa semua anak untuk berada dalam keadaan yang sama.

Misalnya ada seorang anak yang hanya memiliki satu telepon genggam di rumah, yaitu milik orang tuanya. Ponsel tersebut harus digunakan orang tua untuk bekerja.

Apakah masuk akal jika saya memarahinya karena tidak dapat mengikuti Google Meet?

Menurut saya, tidak.

Yang penting anak tersebut tetap belajar.

Tetap membaca materi.

Tetap mengerjakan tugas.

Kapan tugas itu dikumpulkan, dalam kondisi tertentu, saya bisa memberikan kelonggaran.

Tetapi di sisi lain, ada pula murid yang sebenarnya sehat, memiliki perangkat, memiliki akses internet, tetapi berulang kali tidak mengikuti pembelajaran dan tidak mengumpulkan tugas dengan berbagai alasan.

Untuk kondisi seperti ini, tentu saya perlu bersikap lebih tegas.

Di sinilah saya belajar bahwa menjadi guru berarti belajar memahami kondisi setiap anak.

Kita tidak bisa selalu memperlakukan semua murid dengan cara yang sama.

Kadang kita perlu memberikan kelonggaran.

Kadang kita juga harus tegas.

Dan untuk mengetahui kapan harus memberikan kelonggaran dan kapan harus bersikap tegas, komunikasi dengan orang tua menjadi sangat penting.

Bagaimana Mungkin Anak Tidak Overheat?

Coba bayangkan.

Setiap hari ada tiga mata pelajaran yang harus diikuti murid secara daring melalui Google Meet atau Zoom.

Setiap mata pelajaran kemungkinan besar memberikan tugas mandiri.

Setelah satu pertemuan selesai, anak harus berpindah ke mata pelajaran berikutnya.

Kemudian mengerjakan tugas.

Lalu berpindah lagi.

Bagaimana mungkin anak-anak tidak overheat?

Tetapi ternyata masalah overheat bukan hanya dialami oleh murid.

Guru juga bisa mengalaminya.

Bayangkan seorang guru mengajar lima kelas.

Di setiap kelas terdapat beberapa murid yang sulit mengumpulkan tugas.

Setiap hari harus diingatkan.

Besok ditagih lagi.

Lusa ditagih lagi.

Ada yang baru mengumpulkan setelah berkali-kali diingatkan.

Kalau hanya satu atau dua murid mungkin tidak terlalu terasa.

Tetapi ketika jumlah tersebut dikalikan dengan lima kelas, pekerjaan kecil itu bisa berubah menjadi beban yang cukup melelahkan.

Jujur, saya pribadi pun sebagai guru sudah mulai jenuh dengan PJJ ini.

Bukan karena saya tidak ingin mengajar.

Tetapi karena situasi yang berlangsung terlalu lama memang melelahkan.

Saya Mulai Mengubah Cara Mengajar

Daripada terus mengeluh, saya mencoba mencari metode lain ketika mengajar daring.

Saya mengubah cara pembelajaran.

Tidak ada PR.

Tidak ada tugas tambahan setelah pertemuan Google Meet.

Sebisa mungkin, semua pertanyaan dan latihan langsung saya berikan ketika kami sedang bertemu secara daring.

Saya ingin waktu pertemuan digunakan sebaik mungkin.

Ternyata cara ini cukup efektif.

Beberapa murid justru menjadi lebih semangat mengikuti Google Meet karena mereka tahu bahwa latihan dan pembahasan dilakukan bersama-sama.

Bagaimana dengan anak-anak yang tidak bisa mengikuti Google Meet?

Merekalah yang saya berikan materi secara online dan tugas tambahan untuk dikerjakan di rumah.

Jika ada murid yang memiliki keterbatasan perangkat, saya berikan pilihan lain dan kelonggaran.

Saya belajar bahwa dalam keadaan seperti ini, keadilan tidak selalu berarti memperlakukan semua anak dengan cara yang sama.

Kadang adil berarti memberikan apa yang dibutuhkan masing-masing anak agar mereka tetap memiliki kesempatan untuk belajar.

Guru Tidak Hanya Mengajarkan Materi

Dalam kondisi seperti ini pula saya semakin memahami bahwa menjadi guru tidak cukup hanya mengajarkan materi.

Saya juga harus mendidik.

Saya perlu memberikan motivasi kepada anak-anak di awal pembelajaran.

Bahkan terkadang, waktu untuk memberikan motivasi justru lebih lama daripada waktu menjelaskan materi.

Saya bertanya kepada mereka:

Bagaimana cara mengatasi kemalasan?

Mengapa kita harus belajar?

Apa yang membedakan orang sukses dan orang yang tidak berhasil?

Mengapa agama Islam memerintahkan kita untuk membaca?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang saya berikan kepada anak-anak untuk meningkatkan kembali keinginan mereka untuk belajar.

Sebab saya sadar, masalah mereka tidak selalu tentang tidak memahami materi.

Kadang masalahnya adalah mereka kehilangan semangat.

Kadang mereka bosan.

Kadang mereka lelah.

Kadang mereka tidak tahu mengapa harus terus belajar ketika keadaan di luar sana sedang tidak baik-baik saja.

Maka sebelum mengajarkan rumus, saya merasa perlu mengingatkan mereka tentang alasan mengapa mereka harus belajar.

Mencari Celah di Tengah Keterbatasan

Pada akhirnya, sebagai seorang guru, saya belajar mencari celah di antara berbagai keterbatasan.

Saya teringat sebuah gagasan dari buku yang sedang saya baca:

"Jika Anda benar-benar percaya Anda dapat mengerjakan lebih banyak, pikiran Anda berpikir secara kreatif dan memperlihatkan caranya kepada Anda."

Saya merasa kalimat tersebut sangat relevan dengan kondisi saya sekarang.

Saya bisa terus mengeluh tentang asap.

Saya bisa mengeluh karena PJJ melelahkan.

Saya bisa mengeluh karena murid tidak hadir.

Saya bisa mengeluh karena tugas tidak dikumpulkan.

Saya bisa mengeluh karena harus datang ke sekolah meskipun udara sedang tidak sehat.

Tetapi setelah semua keluhan itu saya keluarkan, apakah keadaan akan berubah?

Tidak.

Karena itu, saya mencoba mengubah pertanyaan.

Bukan lagi:

"Mengapa keadaan seperti ini?"

Tetapi:

"Bagaimana saya bisa bekerja dengan lebih baik dalam keadaan seperti ini?"

Pertanyaan itu membuat saya mulai mencari cara.

Kalau anak tidak bisa datang ke sekolah, bagaimana saya tetap bisa mengajar?

Kalau anak tidak bisa mengikuti Google Meet, bagaimana saya memberikan alternatif?

Kalau anak mulai bosan, bagaimana saya membuat pembelajaran lebih menarik?

Kalau tugas terlalu banyak, apakah saya benar-benar harus menambah beban mereka?

Kalau saya sendiri mulai jenuh, apa yang bisa saya ubah dari cara mengajar saya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung menyelesaikan masalah.

Tetapi setidaknya membuat saya bergerak.

Kita Tidak Selalu Bisa Mengubah Keadaan

Ada banyak hal yang berada di luar kendali saya.

Saya tidak bisa memadamkan seluruh kebakaran hutan dan lahan.

Saya tidak bisa mengendalikan kualitas udara.

Saya tidak bisa menentukan kapan asap akan hilang.

Saya juga tidak bisa menentukan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Tetapi saya masih bisa menentukan bagaimana saya merespons keadaan.

Saya masih bisa memilih untuk tetap mengajar dengan baik.

Saya masih bisa mencari metode pembelajaran yang lebih sesuai.

Saya masih bisa memahami kondisi murid.

Saya masih bisa memberikan kelonggaran kepada anak yang memang membutuhkan.

Saya masih bisa tegas kepada anak yang memang perlu ditegaskan.

Saya masih bisa memberikan motivasi.

Dan yang paling penting, saya masih bisa bertanya kepada diri sendiri:

"Apa yang bisa saya lakukan agar keadaan yang sulit ini tidak membuat saya berhenti menjadi guru yang baik?"

Mungkin itulah yang dimaksud dengan mencari celah di tengah keterbatasan.

Bukan berarti kita menerima keadaan begitu saja.

Bukan berarti kita menganggap kabut asap sebagai sesuatu yang normal.

Dan bukan pula berarti kita tidak boleh mempertanyakan keadaan.

Justru sebaliknya.

Kita tetap perlu bertanya mengapa bencana seperti ini terus terjadi.

Kita perlu berharap agar mereka yang memiliki kewenangan benar-benar mencari solusi agar masyarakat tidak terus-menerus mengalami keadaan seperti ini.

Tetapi sembari menunggu perubahan yang lebih besar, saya ingin memastikan bahwa keterbatasan keadaan tidak ikut membatasi cara saya berpikir.

Hari ini saya masih mengajar.

Masih membuka laptop.

Masih bertemu anak-anak melalui layar.

Masih mencoba membuat mereka mau belajar.

Masih mencoba memahami kondisi mereka.

Dan masih mencari cara.

Karena mungkin, dalam keadaan yang serba terbatas seperti ini, hal terbaik yang bisa saya lakukan bukan hanya mengeluh tentang apa yang tidak bisa saya ubah.

Tetapi bertanya kepada diri sendiri:

"Bagaimana saya bisa bekerja dengan lebih baik?"

Saya berharap pertanyaan yang sama juga dipikirkan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan.

Bukan hanya:

"Bagaimana kita bertahan menghadapi kabut asap tahun ini?"

Tetapi juga:

"Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak, guru, orang tua, dan seluruh masyarakat tidak perlu mengalami keadaan seperti ini lagi di tahun-tahun mendatang?"

Sebab bagi saya, kabut asap bukan sekadar persoalan tentang langit yang berubah warna.

Ia adalah tentang anak-anak yang kehilangan ruang belajar yang nyaman.

Tentang guru yang tetap harus bekerja dalam kondisi udara yang buruk.

Tentang orang tua yang harus membagi perhatian antara pekerjaan dan anak.

Tentang masyarakat yang harus terus menjalani kehidupan sambil menghirup udara yang tidak sehat.

Dan pada akhirnya, tentang sebuah pertanyaan besar yang seharusnya tidak hanya dijawab oleh guru:

Sampai kapan keadaan seperti ini kita anggap biasa?

Posting Komentar

0 Komentar