Apakah Ini Benar-Benar Penting?

"Apakah ini benar-benar penting?"

Ini adalah salah satu kalimat menarik yang saya baca dari buku Berpikir dan Berjiwa Besar hari ini.

Sederhana.

Hanya beberapa kata.

Tetapi semakin saya pikirkan, semakin saya menyadari bahwa mungkin kalimat sederhana ini bisa menyelamatkan kita dari banyak masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Kadang, ketika lelah bekerja, kita ingin semua orang tahu bahwa kita sedang lelah. Kita menghela napas panjang, berharap seseorang menyadarinya.

Ketika teman sekantor tidak bisa diajak bekerja sama, rasanya ingin marah kepadanya dan melaporkannya kepada atasan.

Ketika seorang murid sudah berkali-kali dinasihati tetapi tidak juga berubah, kita mulai berpikir untuk melaporkannya kepada wali kelas, bahkan kepada orang tuanya.

Ketika nama kita berada di urutan terbawah dalam daftar gaji, kita mulai bertanya:

"Apakah memang setidak penting itu diri saya?"

Ketika keluarga sudah tidak lagi memiliki visi yang sama, kita mulai berpikir untuk diam, menjauh, bahkan pergi dari rumah.

Pada saat-saat seperti itu, mungkin ada satu pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri:

"Apakah ini benar-benar penting?"

Jangan Habiskan Energi untuk Hal yang Tidak Penting

Satu hal yang saya pahami dari gagasan David Schwartz dalam buku tersebut adalah bahwa kita sering kali salah fokus.

Kita memberikan terlalu banyak perhatian kepada hal-hal yang sebenarnya remeh.

Dan ironisnya, banyak permasalahan, pertengkaran, bahkan hubungan yang rusak dalam kehidupan manusia justru berawal dari sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Saya teringat pengalaman yang baru saja saya alami.

Hari itu saya seharian bekerja di depan laptop untuk membuat konten video untuk bisnis saya.

Saya merekam menggunakan suara asli saya.

Meja kerja tempat saya bekerja kebetulan berada tepat di depan kamar adik saya.

Selama saya bekerja, adik saya membuat cukup banyak keributan di kamarnya.

Keributan yang bahkan mungkin bisa didengar oleh hampir semua orang di rumah.

Beberapa kali saya harus mengulang pengambilan video karena suara dari kamarnya masuk ke dalam rekaman.

Jujur saja, saya kesal.

Dalam kondisi seperti itu, saya sebenarnya bisa saja berdiri, mendobrak pintu kamarnya, lalu memarahinya.

Saya bisa mengatakan bahwa dia mengganggu pekerjaan saya.

Saya bisa mengatakan bahwa saya sudah berulang kali melakukan take dan harus mengulang semuanya hanya karena suara dari kamarnya.

Tetapi kemudian saya bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah penting bagi saya untuk memarahinya?"

Saya mencoba membayangkan apa yang terjadi jika saya benar-benar melakukannya.

Mungkin saya marah.

Dia juga marah.

Dia mungkin membalas,

"Kenapa kamu bekerja di hari libur?"

Saya kemudian membalas lagi.

Dia membalas lagi.

Dan akhirnya masalah kecil yang awalnya hanya berupa suara berisik berubah menjadi pertengkaran keluarga.

Lalu setelah pertengkaran selesai, apakah pekerjaan saya akan menjadi lebih mudah?

Belum tentu.

Bahkan kemungkinan besar justru sebaliknya.

Pikiran saya sudah kacau.

Emosi saya sudah naik.

Konsentrasi saya hilang.

Pekerjaan yang seharusnya selesai hari itu mungkin justru semakin tertunda.

Semua hanya karena saya memilih untuk bereaksi terhadap sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang jauh lebih sederhana.

Untungnya saya bertanya sebelum bertindak:

"Apakah ini benar-benar penting?"

Jawaban saya saat itu:

"Tidak."

Jadi, dari balik kamar saya hanya berkata dengan nada pelan:

"Dek, jangan ribut. Kakak masih kerja."

"Iya, K," jawabnya.

Selesai.

Sesederhana itu.

Masalah yang sebenarnya bisa berkembang menjadi pertengkaran keluarga ternyata selesai hanya dengan satu kalimat sederhana.

Saya kemudian berpikir, betapa seringnya kita membuat masalah menjadi lebih besar hanya karena kita gagal bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah ini benar-benar penting?"

Tetapi Bagaimana Jika Memang Penting?

Setelah menyelesaikan subbab tersebut, saya justru menemukan pertanyaan baru.

Kalau kita tidak boleh terlalu fokus pada hal-hal kecil, lalu bagaimana jika kita menghadapi sesuatu yang benar-benar penting?

Apa yang harus kita lakukan?

Saya rasa, jawabannya bukan berarti kita harus mengabaikan masalah.

Bukan pula berarti kita harus selalu bersikap tenang dan membiarkan semuanya berjalan begitu saja.

Menurut saya, justru sebaliknya.

Kita harus belajar membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.

Karena kalau semua hal kita anggap penting, pada akhirnya tidak ada yang benar-benar penting.

Dan salah satu hal yang menurut saya benar-benar penting adalah kondisi sekolah tempat saya bekerja.

Sekolah yang Tidak Bisa Saya Anggap Sepele

Beberapa tahun terakhir, sekolah tempat saya bekerja mengalami penurunan jumlah murid.

Ruang kelas semakin banyak yang kosong.

Fasilitas yang sebenarnya masih bisa digunakan tidak semuanya dimanfaatkan secara maksimal.

Dan semakin lama, saya merasa persoalan ini bukan lagi sesuatu yang bisa saya anggap sepele.

Ini penting.

Bukan hanya karena berkaitan dengan jumlah murid.

Tetapi juga berkaitan dengan masa depan sekolah, keberlangsungan pekerjaan guru, kesejahteraan guru, dan kepercayaan masyarakat kepada sekolah.

Namun, saya juga menyadari satu hal:

Tidak semua persoalan harus saya selesaikan.

Saya tidak mungkin memperbaiki semuanya.

Saya juga tidak ingin menghabiskan energi untuk hal-hal yang berada di luar kendali saya.

Saya tidak ingin sibuk memikirkan bagaimana cara mengoreksi kinerja yayasan.

Saya tidak ingin terus-menerus menuntut kepala sekolah agar lebih memperhatikan usaha guru.

Saya juga tidak ingin menghabiskan waktu untuk memperdebatkan hal-hal yang pada akhirnya tidak bisa saya ubah seorang diri.

Bukan berarti hal-hal tersebut tidak penting.

Tetapi mungkin bukan itu wilayah kendali saya.

Saya kemudian bertanya lagi kepada diri sendiri:

"Kalau begitu, apa yang bisa saya lakukan?"

Pertanyaan itu terasa jauh lebih produktif.

Melihat Apa yang Masih Kita Miliki

Saya mencoba melihat sekolah ini bukan hanya dari masalahnya.

Saya mencoba melihat apa yang masih kami miliki.

Ternyata, masih cukup banyak.

Kami memiliki ruang kelas yang kosong dan masih dilengkapi meja serta kursi.

Kami memiliki laboratorium TIK dengan sekitar 40 komputer, lengkap dengan meja, kursi, dan jaringan internet.

Lokasi sekolah juga sangat strategis.

Di sekitar sekolah terdapat beberapa sekolah lain, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Gedung sekolah berada di lokasi yang relatif aman untuk anak-anak.

Dekat dengan jalan raya besar, tetapi area sekolah dikelilingi pagar.

Dan yang tidak kalah penting, kami memiliki guru-guru muda dengan berbagai kemampuan.

Ada yang bisa mengajar mengaji.

Ada yang kuat di matematika.

Ada yang mampu mengajar membaca.

Ada yang memiliki kemampuan di bidang komputer dan teknologi.

Saya kemudian berpikir:

Jangan-jangan sekolah ini sebenarnya tidak kekurangan sumber daya.

Mungkin yang kurang adalah cara kita mengolah sumber daya tersebut.

Dari sinilah saya mulai memikirkan beberapa kemungkinan.

Kemungkinan Pertama: Memanfaatkan Ruang Kosong untuk Bimbingan Belajar

Sekolah memiliki ruang kelas yang tidak digunakan sepanjang waktu.

Mengapa tidak dimanfaatkan untuk bimbingan belajar tingkat SD?

Tutornya tidak harus berasal dari luar.

Guru-guru yang sudah mengajar di sekolah bisa menjadi tutor.

Program ini bisa dimulai secara sederhana.

Misalnya, bimbingan matematika, bahasa Indonesia, membaca, mengaji, atau persiapan masuk SMP.

Ada dua manfaat yang langsung terpikir oleh saya.

Pertama, sekolah memiliki kegiatan yang bisa dikenalkan kepada masyarakat.

Orang tua yang sebelumnya tidak mengenal sekolah ini akan mulai mengenal lingkungan sekolah, guru-gurunya, dan program yang ditawarkan.

Kedua, guru-guru honorer memiliki kesempatan mendapatkan penghasilan tambahan di luar jam mengajar.

Jadi ruang kosong tidak lagi hanya menjadi ruang kosong.

Ia berubah menjadi tempat belajar.

Dan pada saat yang sama, sekolah mendapatkan kesempatan untuk kembali berinteraksi dengan masyarakat.

Kemungkinan Kedua: Menghidupkan Kembali Laboratorium Komputer

Ini menurut saya bahkan lebih menarik.

Sekolah memiliki laboratorium TIK dengan sekitar 40 komputer.

Namun, laboratorium tersebut terutama digunakan ketika pelajaran Informatika berlangsung.

Setelah kegiatan pembelajaran selesai, ruangan tersebut tidak lagi digunakan secara maksimal.

Saya kemudian bertanya:

Bagaimana jika laboratorium ini dibuka untuk kursus komputer tingkat SD?

Kita hidup di zaman ketika kemampuan menggunakan teknologi semakin penting.

Anak-anak tidak cukup hanya bisa menggunakan smartphone untuk bermain atau bersosial media.

Mereka juga perlu memahami komputer.

Mengetik.

Mengelola file.

Menggunakan aplikasi perkantoran.

Membuat presentasi.

Mengolah data sederhana.

Memahami keamanan digital.

Bahkan mungkin, pada tingkat tertentu, mulai mengenal pemrograman dan kecerdasan buatan.

Sekolah bisa bekerja sama dengan lembaga yang memiliki kompetensi untuk memberikan sertifikasi kursus komputer tingkat dasar.

Guru-guru yang memiliki kemampuan TIK juga bisa diberikan pelatihan dan sertifikasi.

Program tersebut tentu saja dapat dibuat sebagai program berbayar.

Dari sisi orang tua, saya rasa ada kebutuhan yang cukup masuk akal untuk program seperti ini.

Dari sisi guru, ada peluang mendapatkan penghasilan tambahan.

Dari sisi sekolah, sebagian keuntungan dapat dialokasikan untuk perawatan dan pengembangan laboratorium.

Dan dari sisi pemasaran, ini bisa menjadi sesuatu yang menarik.

Sekolah tidak hanya dikenal sebagai sekolah yang memberikan pendidikan formal.

Sekolah bisa membangun identitas sebagai salah satu sekolah yang serius mengembangkan kecakapan teknologi anak-anak.

Saya membayangkan suatu hari orang tua berkata:

"Kalau ingin anak belajar komputer, coba ke sekolah itu."

Bukankah menarik jika sebuah sekolah memiliki identitas seperti itu?

Kemungkinan Ketiga: Menggabungkan Keduanya

Sebenarnya, dua program tersebut tidak harus berjalan sendiri-sendiri.

Bimbingan belajar dan kursus komputer bisa dijalankan secara bersamaan.

Bahkan, sekolah tidak harus langsung menargetkan masyarakat luas.

Kita bisa memulainya dari orang tua murid yang anaknya sudah bersekolah di sana.

Saya yakin ada orang tua yang membutuhkan bimbingan tambahan untuk anaknya.

Dan mungkin mereka akan lebih percaya jika tutor tersebut adalah guru yang sudah mengajar anak mereka sejak kelas VII.

Program bisa dimulai dalam skala kecil.

Kemudian dievaluasi.

Berapa banyak yang mendaftar?

Program mana yang paling diminati?

Berapa biaya operasionalnya?

Berapa penghasilan yang bisa diberikan kepada guru?

Berapa keuntungan yang bisa digunakan untuk sekolah?

Apa yang perlu diperbaiki?

Setelah itu, program yang paling potensial bisa dikembangkan.

Tidak perlu langsung besar. Yang penting mulai.

Mungkin Kita Tidak Perlu Memperbaiki Semuanya

Saya semakin menyadari bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan seseorang yang mampu menyelesaikan semua masalah.

Terkadang perubahan hanya membutuhkan seseorang yang mau memilih satu masalah penting yang bisa dikendalikan, kemudian mulai mengerjakannya.

Saya tidak bisa mengubah semua keputusan yayasan.

Saya tidak bisa memaksa semua guru untuk memiliki semangat yang sama.

Saya tidak bisa membuat semua orang tua percaya kepada sekolah ini.

Saya juga tidak bisa mengembalikan jumlah murid seperti sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu hanya dengan satu program.

Tetapi saya bisa mencari kemungkinan.

Saya bisa mengusulkan.

Saya bisa berdiskusi.

Saya bisa mengajak beberapa guru yang memiliki semangat yang sama.

Dan jika mendapatkan dukungan dari sekolah, mungkin kami bisa mencoba sesuatu.

Karena pada akhirnya, saya tidak ingin hanya menjadi orang yang mengatakan:

"Sekolah ini semakin sepi."

Saya ingin menjadi orang yang bertanya:

"Apa yang masih bisa kita lakukan agar sekolah ini kembali ramai?"

Itulah perbedaan antara melihat masalah dan melihat kemungkinan.

Memilih Apa yang Penting

Mungkin sebenarnya inilah pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari pertanyaan sederhana:

"Apakah ini benar-benar penting?"

Pertanyaan itu bukan berarti kita harus mengabaikan masalah.

Justru sebaliknya.

Pertanyaan itu membantu kita memilah.

Mana yang hanya menguras emosi.

Mana yang benar-benar penting.

Mana yang berada dalam kendali kita.

Mana yang berada di luar kendali kita.

Mana yang perlu segera diselesaikan.

Dan mana yang sebenarnya bisa kita biarkan berlalu.

Untuk urusan kecil seperti suara adik saya ketika sedang bekerja, saya memilih untuk tidak memperbesar masalah.

Tetapi untuk masa depan sekolah tempat saya bekerja, saya rasa saya tidak bisa melakukan hal yang sama.

Ini penting.

Karena di balik sebuah sekolah ada murid.

Di balik murid ada keluarga.

Di balik guru ada kehidupan.

Dan di balik sebuah gedung sekolah yang mulai sepi, ada sejarah panjang yang mungkin masih bisa diselamatkan.

Saya tidak tahu apakah tiga ide sederhana yang saya pikirkan tadi benar-benar akan berhasil.

Mungkin bimbingan belajar tidak mendapatkan banyak peminat.

Mungkin kursus komputer tidak berjalan sesuai harapan.

Mungkin sekolah membutuhkan strategi yang jauh lebih besar dari sekadar dua program tersebut.

Saya tidak tahu.

Tetapi setidaknya saya tidak lagi hanya melihat ruang kosong sebagai ruang kosong.

Saya melihat kemungkinan.

Saya tidak lagi hanya melihat laboratorium komputer sebagai ruangan yang digunakan ketika pelajaran Informatika.

Saya melihat kemungkinan.

Saya tidak lagi hanya melihat guru-guru muda sebagai tenaga pengajar.

Saya melihat kemungkinan.

Dan mungkin, itulah langkah pertama dari sebuah perubahan.

Bukan langsung memperbaiki semuanya.

Tetapi mulai melihat sesuatu dengan pertanyaan yang berbeda.

Bukan lagi:

"Mengapa sekolah ini semakin sepi?"

Melainkan:

"Dengan semua yang masih kita miliki, sekolah ini masih bisa menjadi apa?"

Posting Komentar

0 Komentar