"Jika Anda percaya sesuatu itu tidak mungkin, pikiran Anda akan membuktikannya dengan mencari berbagai alasan. Jika Anda percaya sesuatu itu mungkin, pikiran Anda akan membuktikannya dengan mencari berbagai cara kreatif yang bisa dilakukan."
Kurang lebih seperti itulah ide yang saya tangkap dari pernyataan David J. Schwartz dalam bukunya yang berjudul Berpikir dan Berjiwa Besar.
Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kabar gembira dari panitia lomba Olimpiade Matematika tingkat SMP se-Kalimantan Tengah yang diadakan oleh salah satu kampus besar di Kota Palangka Raya.
Dari tiga murid yang kami kirimkan untuk mengikuti lomba, dua di antaranya berhasil lolos ke babak final.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah sebuah pencapaian kecil. Tetapi bagi saya, kabar ini memiliki arti yang jauh lebih besar.
Karena selama kurang lebih lima tahun saya mengajar di sekolah ini, seingat saya belum pernah ada murid yang berhasil dalam olimpiade matematika. Bahkan untuk sekadar lolos ke babak final pun belum pernah.
Dan ternyata, masalahnya mungkin bukan karena mereka tidak mampu.
Mungkin selama ini kami yang terlalu cepat menganggap mereka tidak mampu.
Persepsi yang Diam-Diam Menjadi Batas
Dibandingkan prestasi akademik, murid-murid di sekolah ini memang lebih sering menonjol dalam bidang nonakademik.
Mereka sering memenangkan berbagai perlombaan seperti pencak silat, seni musik, seni tari, menggambar, tilawah, tartil, dan berbagai perlombaan nonakademik lainnya.
Lama-kelamaan, sebuah persepsi terbentuk.
Murid-murid di sekolah ini memang lebih kuat di bidang nonakademik.
Saya pun memiliki pemikiran yang sama.
Ketika berbicara tentang olimpiade matematika, rasanya sulit membayangkan ada murid dari sekolah kami yang bisa bersaing sampai tingkat final.
Tanpa disadari, persepsi tersebut akhirnya menjadi semacam batas.
Ketika kita percaya murid tidak memiliki kemampuan dalam olimpiade matematika, kita mulai mencari alasan mengapa mereka tidak akan berhasil.
Tidak ada program latihan rutin.
Tidak ada pelatihan khusus bagi guru pendamping.
Tidak ada anggaran khusus untuk program olimpiade.
Tidak ada jam tambahan yang dirancang secara khusus.
Berbagai kemungkinan akhirnya tertutup bahkan sebelum pernah benar-benar dicoba.
Kita bukan gagal karena sudah mencoba dan tidak berhasil. Kita bahkan belum mencoba dengan sungguh-sungguh.
Justru Murid yang Mengingatkan Saya
Menariknya, keikutsertaan murid-murid saya dalam olimpiade ini sebenarnya tidak direncanakan secara khusus oleh saya.
Ibu Nisa, selaku bendahara kesiswaan, mendaftarkan beberapa murid tanpa sepengetahuan saya.
Beberapa minggu setelah pendaftaran, seorang murid menemui saya di ruang guru.
"Pak, kapan mulai pelatihannya untuk olimpiade?"
Saya bingung.
"Olimpiade?"
"Iya, Pak. Olimpiade yang didaftarkan Bu Nisa."
Saya bahkan belum mengetahui secara detail olimpiade seperti apa yang akan mereka ikuti.
Akhirnya saya meminta murid tersebut, sebut saja Tantia, untuk mengirimkan informasi lombanya kepada saya.
"Bapak pelajari dulu dokumennya, ya. Besok temui lagi Bapak di ruang guru untuk mengambil contoh latihan soal."
Setelah percakapan itu, saya justru merasa sedikit malu.
Seorang murid ternyata lebih dahulu bersemangat mengikuti olimpiade daripada gurunya sendiri.
Tetapi di sisi lain, saya juga merasa senang.
Ternyata masih ada murid yang memiliki semangat untuk mengikuti olimpiade, khususnya matematika, sebuah mata pelajaran yang selama ini sering dianggap sulit.
Keesokan harinya, saya mengumpulkan ketiga murid tersebut untuk membicarakan teknis pelatihan.
Dan sejak saat itu, cara pandang saya mulai berubah.
Ketika Keyakinan Berubah, Cara Berpikir Pun Berubah
Semangat anak-anak ternyata menular kepada saya.
Saya tidak bisa lagi mempertahankan pandangan bahwa murid-murid di sekolah ini tidak memiliki bakat atau potensi untuk mengikuti olimpiade matematika.
Saya mulai berpikir sederhana:
Mereka sudah memiliki kemauan. Tugas saya adalah membantu mereka berkembang.
Tetapi sebelum memulai pelatihan, tentu saja ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala saya.
Apakah benar murid-murid ini bisa berhasil?
Pasti melelahkan melatih mereka setelah selesai mengajar.
Tidak ada program sekolah yang secara khusus memprioritaskan olimpiade.
Tidak ada honor tambahan untuk guru yang membimbing di luar jam mengajar.
Kalau saya menggunakan waktu untuk melatih mereka, apakah saya harus mengajar secara sukarela?
Apakah orang tua mereka peduli?
Apakah sekolah peduli dengan apa yang saya lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlahan berubah menjadi alasan.
Dan saya sadar, jika saya terus memikirkan semua kemungkinan buruk itu, saya mungkin tidak akan pernah memulai.
Bukankah ini persis seperti yang dikatakan David J. Schwartz?
Ketika kita percaya sesuatu tidak mungkin, pikiran kita akan sibuk mencari alasan untuk membuktikannya.
Maka saya mencoba melakukan sebaliknya.
Saya percaya bahwa mereka bisa.
Lalu saya mulai mencari caranya.
Dari "Tidak Bisa" Menjadi "Bagaimana Caranya?"
Saya yakin anak-anak ini memiliki peluang untuk berhasil.
Memberikan les tambahan setelah mengajar memang melelahkan.
Lalu bagaimana kalau saya mengajar pada malam hari?
Tidak ada program prioritas sekolah untuk olimpiade.
Lalu apakah salah jika saya membuat program tersebut secara mandiri?
Tidak ada honor tambahan.
Lalu apakah pelatihan harus selalu dilakukan secara tatap muka?
Tentu tidak.
Saya bisa melakukan bimbingan secara daring. Satu jam pertemuan sudah cukup untuk memberikan materi dan membahas beberapa soal. Setelah itu, murid dapat berlatih secara mandiri.
Dua kali dalam seminggu saya rasa sudah cukup.
Saya juga tidak perlu datang kembali ke sekolah. Dengan begitu, waktu dan biaya bisa diminimalkan.
Saya mulai melihat bahwa satu per satu masalah yang sebelumnya terlihat besar ternyata memiliki jalan keluar.
Tentang orang tua, saya memilih untuk percaya bahwa mereka peduli terhadap perkembangan anaknya.
Saya membayangkan, ketika seorang anak mengikuti olimpiade matematika, orang tuanya tentu akan merasa bangga. Bahkan mungkin mereka akan bercerita kepada tetangga atau keluarga lainnya.
Dan bukankah itu juga secara tidak langsung menjadi bentuk promosi bagi sekolah?
Begitu juga dengan sekolah.
Saya memilih untuk percaya bahwa sekolah sebenarnya peduli.
Yang perlu saya dan murid-murid lakukan adalah menunjukkan kesungguhan.
Kami berlatih.
Kami belajar.
Kami mencoba.
Terlepas dari bagaimana hasil akhirnya nanti, setidaknya kami sudah berusaha.
Dan ternyata, usaha itu membawa kami sampai ke babak final.
Hanya Lima Minggu
Kalau dihitung kembali, pelatihan olimpiade ini sebenarnya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.
Kami mulai pada 20 Agustus 2026 dan mengikuti babak penyisihan pada 29 September 2026.
Kurang lebih lima minggu.
Itu pun satu minggu di antaranya terpotong karena pelaksanaan Penilaian Tengah Semester.
Artinya, waktu efektif yang kami miliki sebenarnya tidak banyak.
Tetapi dalam waktu yang relatif singkat itu, dua dari tiga murid berhasil lolos ke babak final.
Bagi saya, hasil ini bukan hanya tentang dua murid yang berhasil lolos.
Hasil ini adalah sebuah bukti kecil bahwa persepsi kita tentang kemampuan murid bisa saja keliru.
Selama ini mungkin kita mengatakan,
"Anak-anak di sini memang tidak cocok untuk olimpiade."
Padahal mungkin mereka hanya belum pernah mendapatkan kesempatan.
Mungkin mereka belum pernah dilatih.
Mungkin belum ada guru yang benar-benar mendampingi.
Mungkin belum ada program yang secara konsisten mengarahkan mereka.
Atau mungkin kita sendiri yang terlalu cepat mengatakan bahwa mereka tidak mampu.
Potensi Itu Tidak Selalu Hilang. Kadang Hanya Belum Digali.
Saya tidak mengatakan bahwa setiap murid pasti bisa menjadi juara olimpiade.
Tentu tidak.
Tidak semua murid memiliki minat, kemampuan, atau ketekunan yang sama.
Tetapi saya belajar satu hal dari pengalaman ini:
Jangan menentukan batas kemampuan seorang murid hanya berdasarkan pengalaman masa lalu.
Selama bertahun-tahun tidak ada murid yang berhasil lolos olimpiade matematika bukan berarti tidak akan pernah ada yang berhasil.
Tidak adanya prestasi bukan selalu bukti bahwa potensi itu tidak ada.
Bisa jadi kita belum menemukan cara yang tepat untuk menggali potensi tersebut.
Dan ketika kita sudah percaya bahwa sesuatu mungkin dilakukan, pertanyaan kita pun berubah.
Bukan lagi:
"Mengapa anak-anak kita tidak bisa?"
Tetapi:
"Apa yang bisa kita lakukan agar mereka bisa?"
Pertanyaan kedua jauh lebih produktif.
Karena dari sana, kita mulai mencari cara.
Mencari program.
Mencari waktu.
Mencari metode.
Mencari guru pendamping.
Mencari sumber belajar.
Mencari kesempatan.
Keyakinan tidak otomatis membuat seseorang berhasil. Tetapi keyakinan membuat seseorang mau mencari jalan menuju keberhasilan.
Perjuangan Belum Selesai
Perjalanan anak-anak ini belum selesai.
Masih ada babak final yang harus mereka hadapi.
Saya tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti.
Tetapi sekarang saya memiliki keyakinan yang berbeda dibandingkan beberapa minggu yang lalu.
Saya percaya mereka bisa.
Bukan karena saya tahu mereka pasti menang.
Tetapi karena saya sudah melihat sendiri bahwa ketika mereka diberi kesempatan, dibimbing, dan mau berusaha, mereka mampu melangkah lebih jauh dari apa yang selama ini saya bayangkan.
Dan mungkin, inilah pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari olimpiade ini.
Bukan tentang berapa soal yang berhasil mereka jawab.
Bukan tentang siapa yang menjadi juara.
Tetapi tentang bagaimana semangat seorang murid bisa mengubah cara berpikir gurunya.
Tantia, Ikhsan, dan Fany mungkin belum menyadarinya.
Tetapi kalian telah mengajarkan sesuatu kepada guru kalian.
Kalian mengajarkan saya untuk tidak terlalu cepat mengatakan "tidak bisa."
Kalian mengajarkan saya bahwa terkadang yang dibutuhkan seorang murid bukanlah guru yang sudah yakin bahwa ia pasti berhasil, tetapi guru yang bersedia percaya bahwa ia memiliki kemungkinan untuk berhasil, lalu mau membantunya mencari jalan.
Terima kasih, Tantia.
Terima kasih, Ikhsan.
Terima kasih, Fany.
Terima kasih karena sudah membuka kembali pandangan saya.
Apa pun hasil babak final nanti, kalian sudah memberikan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah medali.
Kalian telah mengingatkan saya bahwa mungkin, selama ini, bukan murid-murid saya yang terlalu kecil untuk bermimpi. Mungkin justru cara pandang saya yang terlalu kecil dalam melihat kemungkinan mereka.

0 Komentar