Ketika menuliskan catatan ini, kepala saya masih sedikit pusing dan badan terasa lemas.
Sepulang sekolah tadi, saya sangat mengantuk. Sesampainya di rumah, saya sempat tertidur sebentar. Saya kira istirahat akan cukup untuk menghilangkan rasa pusing itu. Ternyata tidak. Pada akhirnya saya harus meminum tiga butir obat.
Mungkin karena kondisi badan yang sedang tidak terlalu baik, sebenarnya saya ingin beristirahat. Tetapi ada satu kejadian hari ini yang terus terlintas di kepala saya.
Bukan sesuatu yang besar.
Hanya tentang wallpaper dinding yang terlepas.
Namun dari persoalan kecil itu, saya justru mendapatkan sebuah pelajaran tentang bagaimana kita melihat dan menyelesaikan masalah.
Teguran di Hadapan Banyak Orang
Hari ini saya baru saja ditegur oleh kepala sekolah di hadapan guru-guru dan staf tata usaha ketika rapat.
Kepala sekolah menyampaikan bahwa tembok ruang studio tidak enak dipandang. Beberapa bagian wallpaper dinding sudah terkelupas hingga bagian dalam dinding terlihat.
Beliau kemudian meminta saya untuk memperbaiki kembali bagian tersebut agar tampilan ruang studio menjadi lebih baik.
Saya hanya diam.
Bukan karena saya tidak peduli.
Saya hanya mengetahui kondisi dinding tersebut dari cukup dekat.
Sudah banyak bekas plester yang digunakan untuk mempertahankan wallpaper yang sebenarnya memang sudah tidak layak. Dindingnya lembap dan mulai berkapur. Pelamir dinding juga sudah banyak yang terkelupas.
Dalam kondisi seperti itu, seberapa banyak pun wallpaper ditempeli plester atau perekat, kemungkinan besar akan terlepas lagi.
Dan itu sudah beberapa kali terjadi.
Saya juga sempat mendengar bahwa ada dugaan wallpaper tersebut sengaja dirobek seseorang. Entah benar atau tidak, saya tentu tidak ingin memperdebatkannya. Sebagai pengelola ruang studio, saya memahami bahwa kondisi ruangan tersebut memang menjadi bagian dari tanggung jawab saya.
Hanya saja, menurut saya, ada persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar wallpaper yang terlepas.
Saya sudah pernah menyampaikan bahwa solusi yang lebih baik adalah melepas wallpaper, membersihkan dan mengamplas dinding, memperbaiki bagian yang rusak dan lembap, kemudian melapisinya kembali sebelum memasang wallpaper baru.
Namun mungkin dalam kondisi tertentu, kita memang membutuhkan solusi yang bisa segera terlihat hasilnya.
Saya pun tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Baik, Pak. Setelah ini saya akan minta uang ke bendahara sekolah dan membeli wallpaper bersama Pak Vino."
Akhirnya Saya Membeli Wallpaper
Setelah rapat selesai, saya langsung meminta uang kepada bendahara sekolah.
Saya diberi Rp100.000 untuk membeli wallpaper sekaligus perlengkapan lainnya.
Saya kemudian pergi bersama Vino.
Sebelum membeli wallpaper, kami singgah terlebih dahulu di toko bangunan di Jalan KS Tubun untuk membeli cetok dan amplas.
Dalam pikiran saya, kalau hanya menempelkan wallpaper baru, rasanya percuma. Dinding yang sudah mulai terkelupas setidaknya perlu dikikis terlebih dahulu menggunakan cetok. Bagian yang tidak rata juga perlu diamplas agar wallpaper bisa merekat lebih baik.
Setelah itu kami menuju MR.DIY di Jalan A.Yani.
Sesampainya di sana, kami langsung mencari wallpaper yang kira-kira memiliki motif sama dengan wallpaper di ruang studio.
Ternyata tidak ada.
Saya kemudian teringat bahwa sebelum berangkat saya sudah memotret dinding studio. Saya menunjukkan foto tersebut kepada Vino.
Akhirnya Vino menunjuk sebuah gulungan wallpaper berwarna kuning tua dengan motif seperti serat kayu.
"Gimana kalau kita beli yang warnanya kurang lebih sama, Pak?"
Saya melihatnya.
Dari motif batu bata menjadi motif kayu?
Memang berbeda.
Tetapi setidaknya warnanya kurang lebih sama.
"Daripada kita pulang tidak mendapatkan hasil, lebih baik kita beli yang ada saja. Lagipula tukang sebelumnya juga membeli secara online dari luar kota. Kita perlu cepat, jadi kita beli yang ada saja."
Akhirnya kami membeli wallpaper tersebut.
Pak Badi Tidak Mau Mengerjakannya
Setelah mendapatkan barang, kami kembali ke sekolah.
Kami sempat singgah di pos satpam.
Vino adalah koordinator perlengkapan sekolah, sedangkan saya pengelola studio. Di sana kami bertemu Pak Badi, satpam yang juga sering membantu sekolah dalam berbagai pekerjaan renovasi.
"Saya minum dulu ya, Pak," kata Vino.
"Oke. Saya duluan ya. Ada mahasiswa yang mau konsultasi. Nanti kalau mau ke ruang studio bersama Pak Badi bisa dibuka saja langsung. Pintunya tidak saya tutup," kata saya.
Ternyata mahasiswa yang hendak berkonsultasi berada di ruang studio.
Saya akhirnya kembali ke sana terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian Vino masuk membawa barang yang baru kami beli.
"Mana Pak Badi?" tanya saya.
"Beliau nggak mau, Pak. Katanya untuk apa dikerjakan kalau akhirnya nanti diganti lagi karena wallpaper pasti lepas lagi," jawab Vino.
Saya tersenyum kecil.
"Benar kata Pak Badi. Ini sebenarnya hanya solusi sementara. Tidak akan bertahan lama."
Saya kemudian melanjutkan,
"Tapi ya bagaimana. Pak Kepala mintanya hari ini agar kita perbaiki sementara."
Saya mengatakannya sambil tersenyum masam.
Akhirnya kami pun bekerja.
Kami Bongkar Dindingnya
Kurang lebih 45 menit kami mengerjakan dinding tersebut.
Kami melepaskan bagian wallpaper yang sudah rusak dan mulai membersihkan dinding.
Setelah wallpaper dilepas, kondisi sebenarnya justru semakin terlihat.
Banyak bagian dinding mulai ditumbuhi jamur hitam.
Pelamir dinding terkelupas.
Beberapa bagian bahkan sudah memperlihatkan coran semen di balik lapisan dinding.
Kami tetap membersihkannya.
Kami mengamplas permukaannya, membersihkan sisa cat dan pelamir yang berjatuhan, kemudian menggunakan penyedot debu untuk membersihkan sisa-sisanya.
Setelah itu kami memotong wallpaper baru yang kami beli.
Ukurannya tidak seberapa. Kami hanya bisa memperbaiki sebagian kecil dari dinding yang rusak.
Dan ternyata warna wallpaper yang kami beli juga tidak benar-benar sama dengan warna dinding sebelumnya.
Rupanya kamera ponsel saya tidak cukup akurat dalam menangkap warna.
Saya hanya bergumam,
"Ya mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur."
Obrolan yang Tidak Direncanakan
Di tengah pekerjaan itu, saya dan Vino banyak berbicara.
Ternyata ada banyak kesamaan antara kami.
Kami sama-sama tidak pernah bermain ke mal dan tidak pernah pergi ke bioskop.
Saya sampai berpikir,
ternyata masih ada orang aneh seperti kami di zaman sekarang.
Kami juga memiliki selera musik yang hampir sama.
Oasis.
Audioslave.
Green Day.
Padahal usia saya lebih tua darinya.
Obrolan kemudian melebar ke pekerjaan.
Vino bercerita bahwa selain menjadi guru, ia juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai joki penulisan artikel ilmiah untuk dosen maupun mahasiswa.
"Hasilnya lumayan, Pak. Rata-rata empat jutaan," katanya.
Ia juga bertanya kepada saya mengenai beberapa hal, salah satunya tentang pilihan antara membeli laptop atau motor.
Kalau membeli laptop, spesifikasi seperti apa yang sebaiknya dipilih?
Saya tentu dengan senang hati menjawab.
Pekerjaan tetap berjalan.
Obrolan juga terus berjalan.
Ternyata memperbaiki wallpaper bisa menjadi cara sederhana untuk mengenal lebih jauh orang yang selama ini hanya saya kenal sebagai rekan kerja.
Kepala Sekolah Datang
Kami masih bekerja ketika tiba-tiba kepala sekolah muncul di belakang kami.
"Gimana-gimana?"
Pertanyaan itu terdengar seperti ingin memastikan perkembangan pekerjaan kami.
"Mohon maaf, Pak. Kami tidak menemukan motif dan warna yang sama. Jadi kami beli motif yang ada saja," jawab saya.
Saya kemudian menjelaskan,
"Dan dindingnya memang banyak yang rusak, Pak. Cat dan pelamirnya sudah terlepas. Bahkan ada beberapa bagian yang berjamur."
"Oh, iya kah?"
Hanya itu jawabannya.
Tidak banyak yang bisa saya katakan. Mungkin dari sudut pandang beliau, yang terpenting saat itu adalah bagaimana ruangan segera terlihat lebih baik.
Kemudian beliau menunjuk bagian dinding lainnya.
"Bagian dinding yang itu apakah bisa diperbaiki juga? Ditambal menggunakan wallpaper yang kalian lepas tadi."
Saya terdiam.
Saya melihat Vino.
Dalam hati saya bertanya,
Apakah bisa?
Wallpaper yang baru saja dilepas itu kondisinya sudah lapuk. Kalau digunakan kembali, apakah benar-benar akan menyelesaikan masalah?
Beberapa saat kemudian Vino menjawab,
"Mohon maaf, Pak. Sepertinya tidak bisa. Wallpaper yang kami lepas ini sudah lapuk."
"Oh, iya kah?"
Percakapan pun berhenti.
Kami kembali melanjutkan pekerjaan.
Ternyata Saya Benar
Pada akhirnya pekerjaan selesai.
Vino pulang lebih dahulu.
Saya mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah membantu.
Saya sengaja pulang sedikit lebih lambat. Saya ingin membersihkan beberapa bagian ruangan sekaligus melihat apakah wallpaper yang baru kami pasang benar-benar bisa menempel dengan kuat.
Saya menunggu sekitar sepuluh menit.
Dan ternyata benar.
Sedikit demi sedikit bagian sudut dan sisi wallpaper mulai terlepas kembali.
Saya sebenarnya sudah bisa memprediksinya.
Tetapi saya tetap mencoba mengakalinya dengan memberikan double tape pada bagian belakang wallpaper.
Menempel lagi.
Namun saya tahu, ini juga hanya solusi sementara.
Masalah sebenarnya belum selesai.
Sekolah semakin sepi.
Satu per satu orang pulang.
Dan akhirnya hanya tersisa saya sendiri di ruangan itu.
Saya pun memutuskan untuk pulang.
Bukan Tentang Wallpaper
Dalam perjalanan pulang, saya memikirkan kejadian hari ini.
Saya sadar bahwa persoalan wallpaper ini sebenarnya bukan tentang wallpaper.
Wallpaper yang terlepas hanyalah gejala.
Masalah sebenarnya ada pada kondisi dinding.
Dindingnya lembap.
Ada bagian yang berjamur.
Pelamirnya sudah terkelupas.
Permukaan dinding tidak lagi dalam kondisi yang baik.
Maka sekuat apa pun perekat yang digunakan, wallpaper akan tetap memiliki kemungkinan besar untuk terlepas.
Hari ini kami memang berhasil membuat sebagian dinding terlihat lebih baik.
Tetapi kami belum menyelesaikan masalahnya.
Kami hanya membuatnya terlihat lebih baik untuk sementara.
Dan saya rasa, dari sinilah pelajaran yang paling penting muncul.
Jangan Hanya Memperbaiki Apa yang Terlihat
Dalam banyak persoalan, kita sering tergoda untuk segera memperbaiki sesuatu yang terlihat.
Wallpaper terlepas, kita tempel lagi.
Atap bocor, kita tampung airnya.
Mesin bermasalah, kita perbaiki bagian yang rusak.
Padahal terkadang yang terlihat hanyalah akibat dari persoalan yang lebih dalam.
Karena itu, sebelum menentukan tindakan, mungkin kita perlu bertanya:
"Apa sebenarnya penyebab masalah ini?"
Dalam kasus dinding studio, persoalannya bukan sekadar wallpaper yang terlepas. Ada kondisi dinding yang lembap, jamur, pelamir yang terkelupas, serta permukaan yang memang sudah membutuhkan perbaikan.
Jika akar masalahnya tidak diselesaikan, kita hanya akan melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang.
Mungkin hari ini wallpaper kembali terlepas.
Besok kita tempel lagi.
Beberapa minggu kemudian terlepas lagi.
Dan kita kembali memperbaikinya.
Bukan karena kita tidak bekerja.
Justru karena kita terus bekerja, tetapi pada bagian yang salah.
Solusi cepat memang kadang diperlukan. Namun kita tetap perlu membedakannya dari solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah.
Saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana:
Jangan hanya bertanya bagaimana memperbaiki sesuatu yang rusak. Tanyakan juga mengapa sesuatu itu bisa rusak.
Karena ketika akar masalahnya sudah ditemukan, kita tidak lagi sekadar menambal kerusakan.
Kita mulai benar-benar menyelesaikannya.

0 Komentar