Menemukan Diri di Antara Halaman Guru Aini

Hampir tiga perempat novel Guru Aini karya Andrea Hirata telah selesai saya baca. Kurang dari dua minggu, saya sudah sampai sejauh ini. Sebuah kecepatan yang terbilang luar biasa bagi saya, terutama jika dibandingkan dengan kebiasaan membaca buku-buku lain. Dua bulan pun belum tentu cukup untuk membuat saya menuntaskan sebuah buku.

Sejujurnya, saya bukan pembaca yang akrab dengan novel atau karya fiksi lainnya. Ada semacam jarak antara saya dan buku-buku cerita. Entah karena kurang terbiasa atau karena pikiran saya lebih sering tertarik pada bacaan yang terasa dekat dengan keseharian. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Satu-satunya alasan saya mengambil buku itu dari rak perpustakaan adalah sebuah kata pada sampulnya: guru. Judulnya, Guru Aini. Sesederhana itu. Sebagai seorang guru, saya merasa memiliki kedekatan dengan kata tersebut, meskipun saat itu saya belum tahu cerita seperti apa yang menunggu di dalamnya.

Ternyata, keputusan sederhana itu membawa saya pada pengalaman membaca yang menyenangkan.

Andrea Hirata seperti memiliki kemampuan untuk menghidupkan kata-kata. Setiap kejadian terasa begitu nyata, seolah-olah saya sedang menonton film yang diputar di dalam kepala sendiri. Tokoh-tokohnya tidak sekadar hadir sebagai nama di atas kertas. Mereka berbicara, bergerak, berdebat, membuat keputusan, dan menghadirkan kejadian-kejadian yang dengan mudah saya bayangkan.

Yang lebih mengejutkan, salah satu tokoh sentral dalam novel ini adalah seorang guru matematika, Guru Desi.

Sebagai sesama guru matematika, tentu ada kedekatan tersendiri ketika membaca kisah tentang seseorang yang menjalani profesi yang sama. Namun, novel ini tidak hanya berbicara tentang matematika atau kegiatan mengajar di ruang kelas. Ada pergulatan, harapan, idealisme, dan berbagai persoalan yang membuat ceritanya terasa hidup. Konfliknya dibangun dengan apik, tidak monoton, dan selalu menyisakan rasa ingin tahu tentang apa yang akan terjadi berikutnya.

Belum lagi humornya.

Saya berkali-kali terkekeh, bahkan tertawa sendiri ketika membaca percakapan antartokohnya. Dialog-dialog dengan kekhasan bahasa Melayu menghadirkan kelucuan yang terasa alami. Bukan humor yang dipaksakan, melainkan kelucuan yang muncul dari cara tokoh-tokohnya berbicara, berpikir, dan menanggapi keadaan. Kadang, saya harus berhenti sejenak karena masih tertawa ketika hendak melanjutkan paragraf berikutnya.

Barangkali itulah salah satu hal yang membuat saya sulit meletakkan buku ini. Saya tidak merasa sedang dipaksa untuk membaca. Saya justru ingin terus membaca.

Di antara banyak percakapan dan kejadian dalam novel tersebut, ada satu kalimat Guru Desi yang cukup lama tinggal di pikiran saya:

“Kurasa guru yang baik adalah guru yang dapat memacu kecerdasan muridnya. Guru yang lebih baik adalah guru yang dapat menemukan kecerdasan muridnya. Guru terbaik adalah guru yang tak kenal lelah mencari agar muridnya mengerti.”

Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya terasa begitu dalam.

Selama ini, guru mungkin sering merasa telah mengajar dengan baik ketika mampu menjelaskan materi secara runtut, menyelesaikan seluruh pokok bahasan, atau membuat sebagian besar murid memperoleh nilai tinggi. Padahal, mengajar dan membuat murid mengerti bukanlah dua hal yang selalu berjalan beriringan.

Ada murid yang sekali dijelaskan langsung memahami. Ada yang membutuhkan contoh berbeda. Ada pula yang harus berulang kali mencoba sebelum akhirnya menemukan jalan untuk memahami sesuatu. Bahkan, ada murid yang belum menyadari kemampuan dirinya sendiri sampai seseorang bersedia mencari dan menemukannya.

Di sinilah pekerjaan seorang guru menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar menyampaikan materi.

Guru tidak hanya dituntut menguasai apa yang diajarkannya, tetapi juga berusaha memahami siapa yang sedang diajarnya. Setiap murid datang dengan kemampuan, pengalaman, kesulitan, dan cara belajar yang berbeda. Penjelasan yang berhasil membuat seorang murid mengerti belum tentu memberikan hasil yang sama kepada murid lainnya.

Maka, ketika seorang murid belum memahami pelajaran, pertanyaannya tidak selalu harus, “Mengapa anak ini tidak mengerti?” Sesekali, mungkin kita perlu membalik pertanyaan itu menjadi, “Apakah saya sudah menemukan cara yang tepat agar anak ini mengerti?”

Tentu saja, bukan berarti seluruh tanggung jawab belajar berada di pundak guru. Murid tetap perlu berusaha, berlatih, dan memiliki kemauan untuk belajar. Namun, seorang guru yang baik tidak buru-buru menyimpulkan bahwa seorang murid tidak mampu hanya karena ia belum berhasil memahami sesuatu melalui penjelasan pertama.

Mungkin, kecerdasan seorang murid tidak selalu tersembunyi karena ia tidak memilikinya. Bisa jadi, kecerdasan itu belum ditemukan karena belum ada yang benar-benar berusaha mencarinya.

Saya belum menyelesaikan novel ini. Masih ada halaman-halaman yang menunggu untuk dibaca, dan saya belum tahu bagaimana keseluruhan kisahnya akan berakhir. Namun, sejauh ini, Guru Aini telah memberikan lebih dari sekadar hiburan kepada saya.

Buku yang awalnya saya ambil hanya karena sebuah kata pada sampulnya justru membuat saya kembali memikirkan profesi yang saya jalani setiap hari.

Lucu juga. Saya mengambil novel ini karena menemukan kata guru di sampulnya. Kini, setelah membacanya hampir tiga perempat bagian, saya justru menemukan begitu banyak hal untuk direnungkan tentang menjadi seorang guru.

Dan mungkin, itulah salah satu hal terbaik yang bisa diberikan sebuah buku: bukan hanya membuat kita ingin segera sampai ke halaman terakhir, melainkan membuat kita berhenti sejenak, menengok diri sendiri, lalu bertanya apakah selama ini kita sudah menjadi seseorang yang seharusnya kita perjuangkan untuk menjadi.

Posting Komentar

0 Komentar